Pengalaman Naik Srilankan Airlines

September 22, 2022

Agustus lalu saya berkesempatan pulang ke Indonesia. Rencana ini sudah saya gadang-gadang sejak jauh hari. Cuma ya belum tau kapan persisnya. Sampai akhirnya setelah cocokkin jadwal dari jeda resign dan beberapa kerjaan, ketemulah di Bulan Agustus. Tanpa pikir panjang langsung deh saya cek situs pencari tiket. Buset mahalnya bukan main. Dulu sebelum pandemi, saya biasa keluar Є 500-an untuk tiket pulang-pergi. Setelah pandemi? Boro-boro Є 500 PP, dapet harga Є 500 sekali jalan aja sudah tidak mungkin. Tiket maskapai penerbangan memang gila-gilanya saat ini. Ketika semua orang berbondong-bondong untuk melakukan aksi 'balas dendam' untuk berlibur, harga bahan bakar juga ikut melonjak karena banyak faktor, parahnya lagi banyak maskapai yang belum mengoperasikan penuh armadanya untuk beroperasi.


Untuk periode liburan musim panas tahun lalu, yaitu di bulan Juni hingga Agustus, tiket sekali jalan dari Italia atau negara Eropa lainnya menyentuh angka Є 1000-1400 sekali jalan. Apakah ada yang murah? Ada! Meski ada tapinya. Opsi pertama, beli tiket 'lepasan' alias beda-beda maskapai. Jadi setelah selesai flight yang pertama, ya kita harus keluar imigrasi, ambil bagasi, check in lagi, begitu seterusnya sampai penerbangan terakhir. Yang kemarin saya pantau, dengan harga Є 600-an dibutuhkan setidaknya dua kali transit, layover panjang, dan ya itu tidak ada garansi kalau kita ketinggalan pesawat. Gawat kan, mau cari lebih murah kalau ketinggalan jadinya malah tombok.

Opsi lainnya? Antara merogoh kocek sebesar Є 1000++ atau pulang naik Srilankan Airlines. Sudah ada yang dengar dengan maskapai tersebut? Saya aja baru tahu kemarin. Kalau bukan karena hemat bujet kayaknya engga mungkin tahu kalau ada maskapai Srilankan Airlines. Bahkan waktu saya ditanya pulang naik pesawat apa, teman-teman saya juga banyak yang baru dengar. Mereka lebih khawatir karena tahu saya akan transit di Sri Lanka (of course!).

Sejak beberapa tahun lalu memang Sri Lanka sedang mengalami krisis ekonomi, ditambah dengan adanya pandemi, hutang negara yang semakin menggunung dan puncaknya keadaan diperburuk dengan kaburnya Presiden Sri Lanka sebelumnya, Gotabaya Rajapaksa. Negara kalau sudah dinyatakan bangkrut pasti imbasnya kemana-mana donk, salah satunya ya faktor keamanan. Itulah kenapa teman-teman dekat saya khawatir kenapa saya nekat ambil penerbangan yang notabene akan transit di Sri Lanka.

Durasi penerbangan untuk tiket yang saya beli memakan waktu 2 hari, atau lebih tepatnya 32 jam. Dengan harga tiket yang dibanderol sekitar Є 600an sekali jalan, saya berani jamin tiket saya adalah tiket termurah dibanding penumpang maskapai lain yang sama-sama dibeli 3 minggu sebelum penerbangan :)

Berangkat dari Roma, saya akan terbang ke arah Barat Laut, baru setelah itu berbalik arah ke Timur. Lho memang transit dimana? Oke, pertama saya akan transit di London, Inggris selama kurang lebih 3 jam. Dari Inggris lalu penerbangan dilanjutkan ke Sri Lanka, yang mana saya akan mendarat dan transit selama 18 jam hahaha. 

Sempet lho main ke supermarket :D | Fotografi Dok. Listyan Putri

Kalau transit 18 jam di Doha, Dubai, atau Istanbul saya engga akan pikir panjang untuk urus visa transit lalu cabut dari bandara dan lebih memilih jalan-jalan ke kota. Tapi ini kan terbang pakai Srilanka Airlines ya, dimana saya akan transit di negara yang baru saja memproklamirkan kebangkrutan persis satu bulan sebelum saya terbang. Untungnya saya ingat, kalau transit lebih dari 12 jam penumpang berhak atas kompensasi dari maskapai. Setelah saya cari-cari di website Srilanka Airlines, eh nemu juga informasi kalau saya berhak atas penginapan 1 malam. Alhamdulillah. Lumayan engga bengong-bengong banget selama masa transit yang akhirnya membawa saya buat 'cuci mata' sebentar di Sri Lanka.

Setelah mendarat langsung ke sini buat urus buat ambil voucher hotel | Fotografi Dok. Listyan Putri

Untuk urus ini 2 minggu sebelum terbang jangan lupa email pihak maskapai ya! 
Fotografi Dok. Listyan Putri

Menu buffet makan malam yang akhirnya saya minta bawa ke kamar.
Fotografi Dok. Listyan Putri
Tampilan kamar di Catamaran Hotel. Lumayan lah ya. 
Fotografi Dok. Listyan Putri
Dikasih 2 quenn bed, padahal cuma buat saya sendiri. | Fotografi Dok. Listyan Putri

Help mug-nya engga dialasin nampan atau coaster :') | Fotografi Dok. Listyan Putri

Selain dapat penginapan, menurut saya fasilitas yang diberikan Srilanka Airlines cukup oke kok, meski ada beberapa hal yang menurut saya perlu diupgrade. Waktu saya web check in, saya masih leluasa nih pilih nomer seat. Karena pikir saya bakalan sepi, alhasil saya pilih row tengah dengan 4 seats. Pas hari H, ternyata penerbangan full booked, bahkan di boarding gate cukup chaos karena penumpang numpuk di sana. 

Di Heathrow, bandara tempat saya transit di London, antrian penumpang sudah mengular dari luar area boarding gate. Setelah boarding saya kira mereka akan masuk satu per satu ke badan pesawat. Kenyataanya malah nunggu di waiting room di area gate hingga petugas mempersilahkan penumpang masuk berdasarkan nomer kursi. Tentunya banyak yang engga denger di sini. Staff yang terbatas, penumpang yang membludak, ditambah beberapa penumpang punya 'privilege' untuk mendapatkan akses masuk terlebih dahulu karena mereka saudara atau relasi si staff. Hmm.

Saya menghabiskan kurang lebih 30 menit hanya untuk menunggu di ruang tunggu gate, ditambah 15 menit antri saat boarding. Penerbangan pun berujung delayed. Tapi saya bisa memaklumi ini, namanya juga musim panas, penerbangan sedang rame-ramenya, ditambah Heathrow menjadi salah satu bandara yang super sibuk di Eropa. Belum lama sebelum penerbangan saya, bandara ini sempat viral karena banyak bagasi penumpang yang membludak dan terlantar di sana. Saya cuma berdoa penerbangan saya lancar dan koper saya mendarat sampai di Jakarta itu aja. Selebihnya bonus deh.

Sampai di dalam kabin, wah tiga seats di samping kanan saya sudah ditempati orang. Ekspektasi saya padahal duduk di row yang 4 kursi biar bisa rebahan sepanjang penerbangan. Realitanya, saya duduk berdampingan dengan satu keluarga lengkap dengan anaknya. Mana plug headset di kursi saya kendor, alhasil saya engga bisa dengar audio film dengan jelas. Para pramugara dan pramugari sibuk lalu lalang menuruti keinginan penumpang ekonomi yang demanding. 

Selimut untuk rute Colombo-Jakarta. Enak banget nih bahannya! | Fotografi Dok. Listyan Putri

Saya pun coba mengakali masalah tersebut dengan melilitkan kabel headset ke armrest sisi kiri. Maksudnya ya biar engga ngerepotin pramugari ya, anaknya mandiri soalnya. Eh tapi engga nyaman juga. Akhirnya saya coba sumpel lubang plug in dengan kertas, sempat berhasil tapi ah sudahlah memang harus lapor mereka minta headset baru. Surprisingly, mereka datang ke saya dengan senyum yang merekah dan memindahkan saya ke seat lain yang masih kosong. Wah ini seneng banget sih. 

Bagi saya, seat kelas ekonominya Srilanka Airlines tidak ada yang istimewa. Mirip-mirip seat KLM, tapi ini masih lebih nyaman menurut saya. Sedikit mengobati dengan adanya selimut yang materialnya oke banget, engga terlalu tebal, dan hangat. Kayaknya bahan kashmir deh. 

Selimut untuk rute London-Colombo | Fotografi Dok. Listyan Putri

Gimana makanan di Srilankan Airlines? Karena sebelumnya saya sempat punya flatmates dari Sri Lanka, jadi ya saya cukup familiar dengan makanan khas di negara tersebut. Begitu saya punya tiket Srilanka Airlines, saya sebenarnya engga sabar pengen nyobain menu makanan khas Sri Lanka lainnya hehe :)

Ada nasi dan pasta dalam satu tray. Mantap karbo-nya :D | Fotografi Dok. Listyan Putri

Penumpangnya emang disuruh langsung tidur sih begitu kelar makan.
Fotografi Dok. Listyan Putri

Dengan letak geografis Sri Lanka yang berdekatan dengan India, Pakistan, dan Bangladesh, menurut saya menu makanannya tidak jauh-jauh dengan makanan dari negara-negara tersebut. Kombinasi bumbu kari, rempah dan rasanya yang sedikit pedas, makanan Sri Lanka cocok di lidah saya. Mulai dari hidangan pembuka, main course sampai dessert 8/10 deh. 

Menu sarapan di pesawat untuk rute Colombo-Jakarta. Bolehlah~
Fotografi Dok. Listyan Putri

Overall, saya cukup puas dengan fasilitas yang diberikan. Meski 'murah', tapi pelayanan yang diberikan juga masih berkualitas. Staffnya ramah-ramah, makanan enak, selimut juga oke punya. Yang belum pernah coba terbang naik Srilankan Airlines, saya sarankan coba deh. Lumayan bersaing di tengah perang harga maskapai saat ini. Apalagi buat kamu yang suka traveling dan menguji adrenalin, kalau udah naik Srilanka Airlines, cobain juga jalan-jalan di kotanya juga. Cerita lengkapnya ada di sini.

Selamat datang di Colombo Sri Lanka! | Fotografi Dok. Listyan Putri

Akhirnya sampai juga di Indonesia :)

Masih ada satu maskapai yang saya penasaran ingin coba. Yaitu Ethiopian Airlines. Kenapa penasaran? Karena saya belum pernah ke Afrika, dan kayaknya seru aja gitu transit di Ethiopia hehe. Doakan saya sehat dan lancar rejeki yaa, biar bisa mudik lagi dan mampir Afrika dulu.

xo,

Putri

You Might Also Like

0 comments

Subscribe