Ikutan City Tour di Sri Lanka. Emang Aman?

August 18, 2022

Setelah dua tahun lebih pandemi, tahun ini saya merasa menjadi momen yang tepat untuk mudik. Maunya dulu tiap tahun pulang, eh karena pandemi dan salah satu syarat pulang ke Indonesia harus melewati masa karantina selama 3-7 hari, dihitung-hitung lagi kok lebih mahal biaya karantina di hotel dibanding tiket pesawat. Batal terus deh mudik. Apakah kepulangan ke Indonesia setelah tidak diberlakukannya masa karantina menjadi lebih hemat? Tentu tidak.

Ternyata di liburan musim panas tahun ini animo masyarakat yang mau liburan luar biasa tinggi. Mau dari Indonesia atau Eropa sama gilanya. Harga tiket pesawat benar-benar meroket. Bahkan pilihan penerbangan makin engga masuk akal. Dulu, dengan harga kisaran Rp 8-9 juta saya bisa dapat tiket PP Roma-Jakarta-Roma. Sekarang, boro-boro. Bisa dapat Rp 9 juta sekali jalan udah bersyukur banget. Itupun dengan pengorbanan, durasi terbang 2 hari dan melewati 2 kali transit dengan maskapai anti-mainstream, SriLankan Airlines! Baru dengar kan? Sama saya juga haha. 

Kali ini saya tidak akan cerita panjang lebar tentang pengalaman naik SriLankan Airlines, melainkan pengalaman jalan-jalan singkat di Sri Lanka. Lho kok bisa? Jadi karena tiket yang saya beli dari SriLankan Airlines memiliki layover yang cukup panjang, kurang lebih 18 jam, sebagai bentuk kompensasi saya berhak atas hotel transit secara cuma-cuma! Lumayan kan. Rencana awal saya akan stay di hotel sampai beberapa jam sebelum penerbangan menuju Jakarta dilanjut keesokan harinya.

Setelah sampai di Bandaranaike Colombo (fyi, itu nama bandara internasional di Colombo, Sri Lanka ya), saya menuju counter transit information Srilankan Airlines untuk mengonfirmasi perihal voucher hotel transit. Yang ternyata baru disadari kalau hotel transit lokasinya engga di dalam bandara. Jadi saya harus melewati petugas imigrasi dulu. 

Setelah dapat cap dari imigrasi, saya diarahkan untuk menuju ke counter Srilankan Airlines di area lobi bandara untuk dijemput dengan driver hotel. Dasar Putri, waktu si petugas urus-urus berkas voucher dan kordinasi dengan pihak hotel, saya justru kepo dengan brosur city tour. Bukan brosur mewah. Malah cuma dicetak di kertas HVS A4 hitam putih. Sama sekali engga menarik perhatian wisatawan sebenarnya. Tapi, yang saya herah, kok mereka bisa-bisanya buka tur di tengah hiruk pikuk negara yang belum usai. Si ide, saya pun mulai menggali informasi seputar tur dalam kota Negombo.

"Lho mas, ini aman memangnya? Tur kota bareng siapa aja nih?"

Lalu sang petugas pun mulai menjelaskan tentang situasi terkini di Sri Lanka, tur dalam kota yang dia sendiri bisa menjamin kalau tur ini aman, karena saya pergi didampingi warga lokal. Benar juga sih, kalau ada apa-apa saya bisa saja lapor si petugas yang notabene bekerja untuk SriLankan Airlines.

Singkat cerita, saya mengambil tur Negombo seharga 40 Euro dengan durasi waktu perjalanan kurang lebih 3 jam. Harga asli tur tersebut sebenarnya 40 USD, tapi karena saya cuma punya Euro, mereka pun menerima (dengan senang hati), tanpa berinisiatif melakukan konversi dari USD ke Euro. Cuma punya Poundsterling, tidak masalah, mereka akan jauh lebih happy, karena tetap saja yang harus dibayarkan sebesar 40 Pounds :)

Selesai melakukan pembayaran, mendadak saya diliputi rasa cemas. Di perjalanan menuju mobil hotel, seorang petugas mendampingi saya dan meyakinkan situasi yang aman terkendali. Memang kelangkaan bahan bakar masih menjadi isu utama. Mirisnya, setelah Sri Lanka dinyatakan bangkrut dan kerusuhan terjadi di mana-mana, tidak ada lagi turis mancanegara yang berwisata di negara yang berjuluk mutiara dari Samudera Hindia. Saya juga disarankan untuk memberi tip untuk petugas, driver atau siapapun yang saya temui dalam perjalanan nanti. Wah ini, mulai khawatir lagi saya. Pasalnya saya engga punya cash banyak, karena cuma sisa 10 Euro dan Rp 120 ribu rupiah!





Sampai di hotel, saya punya waktu 1,5 jam untuk bersiap-siap. Waktu yang lebih dari cukup. Tapi jujur saya mulai insecure dengan keputusan yang saya ambil. Pasalnya, dua cowo yang saya temui di hotel (kami sama-sama penumpang SriLankan Airlines dan mendapat fasilitas hotel transit) sama sekali tidak tergiur dengan city tour yang ditawarkan petugas maskapai. Mulai deh panik sendiri. Gimana kalau tiba-tiba saya 'kenapa-kenapa' atau saya kurang kasih tip dan engga dipulangin ke hotel Lol

Tiba akhirnya si driver tur, Shamil, mejemput di hotel. Sebelum berangkat, pihak hotel pun meminta saya menandatangani surat perjanjian yang isinya mereka tidak bertanggung jawab jika terjadi sesuatu dalam perjalanan saya di luar hotel selama city tour. Mana saya engga ada paket internet, sudahlah pasrah ajadeh. Saya pun akhirnya bilang ke driver kalau saya cuma butuh 1,5 jam aja keliling kota. Alasannya, karena saya engga mau egois dan banyak buang bensin mobil mereka demi city tour saya seorang. Cukup bijak bukan cara ngeles saya :D

Dan akhirnya trip singkat Negombo pun dimulai. Yeay! Kemana saja selama di Negombo? Saya pun diarahkan ke Angurukaramulla Temple, candi terbesar di Sri Lanka dengan patung Buddha yang diletakkan di halaman depan. Sebelumnya saya berpikir kalau candi ini akan mirip-mirip dengan candi yang ada di Indonesia. Ternyata salah besar. Candi yang diresmikan pada tahun 1941 oleh Sir Andrew Aldecott ini justru tampil berwarna-warni mulai dari bagian depan hingga mural dan patung-patung di bagian dalam candi. Hingga saat ini, candi tersebut masih kerap digunakan untuk sembahyang warga sekitar. Keadaan candi masih terawat baik, meski udara di bagian dalam candi terasa sangat lembab. Oh ya, untuk masuk ke candi ini sebenarnya gratis, tapi sebaiknya memberikan donasi ke petugas. Dan mereka menerima dalam bentuk mata uang apapun!

Setelah 20 menit di Candi Angurukaramulla, perjalanan dilanjutkan ke Fishing Village. Meski terlalu sore, tapi okelah mengobati rasa penasaran walaupun Fishing Village dimana-mana juga sama yaa hehe. Di sana saya hanya menjumpai beberapa nelayan yang sedang mengeringkan ikan dan satu grup keluarga yang ikutan tur dari agen lain. Akhirnya ketemu turis juga! Idealnya kalau mau ke sini sebaiknya pagi-pagi. Tapi seru juga melihat warga lokal beraktivitas dan main sepak bola di lapangan sambil berburu sunset di sini.

Saya juga diajak keliling ke pusat kota melihat hiruk pikuk warga Negombo, bermacet-macet ria dan melihat kereta api antarkota. Nah ini seru, karena kereta api di sana bener-bener mengingatkan saya dengan kereta api yang ada di scene film-film India. Kereta api tua, dengan gerbong tanpa AC, beberapa warga berdiri di pintu, jendela terbuka, wah seru! Kapan-kapan nyobain deh kalau mampir lagi.


Destinasi berikutnya adalah Hamilton Canal atau yang lebih dikenal dengan nama Dutch Canal. Kanal sepanjang 14 km ini menghubungan kota Puttalam dan Negombo yang telah dibangun sejak tahun 1802. Dulu perahu-perahu di kanal ini menjadi daya tarik wisatawan yang ingin mencoba melintasi kanal dengan perahu, tapi sekarang, boro-boro wisatawan, perahu-perahu yang parkir di pinggir kanal juga sudah lama mangkrak karena sulitnya mendapat bahan bakar untuk berlayar.

Pemandangan serupa juga terjadi di pelabuhan, tidak jauh dari Fish Market. Di sana perahu-perahu besar sudah lama terbengkalai. Kata si driver, mereka baru bisa membeli bensin kalau ada salah satu orang kaya (mungkin makelar) yang berani membeli bahan bakar minyak dalam jumlah besar dari India. Wah dari India banget nih? Yup, mereka saat ini hanya bisa mengimpor minyak dan bahan bakar lain dari India, itupun dalam jumlah yang sangat terbatas. Bahkan untuk mobil, mereka harus rela antri selama 3 hari!

Selesai dari Dutch Canal, ada satu spot lagi yang saya ingin kunjungi, yaitu Brown Beach. Katanya sunset di sana bagus. Sayangnya, langit sudah terlalu gelap dan saya lebih tertarik mampir ke supermarket. Sekalian beli oleh-oleh.

Saya diantarkan ke hotel dengan selamat dan utuh oleh driver. Tak lupa memberi tip dengan sisa cash yang saya punya, dalam bentuk Euro dan Rupiah. Bingung kan :D

Di akhir perjumpaan, Shamil meninggalkan nomer telepon agar saya bisa membagikan ke banyak orang yang transit dan tertarik jalan-jalan singkat di Negombo. 

Aman engga di sana? Well, saya bisa bilang aman. Malah suasanya terlihat normal dan baik-baik saja. Entah mungkin karena saya jalan-jalan di Negombo, bukan Colombo, atau memang situasi yang sudah mereda pasca pergantian presiden. 

Gimana suasana di Negombo? Ini juga yang saya heran. Walaupun di berita-berita dibilang mereka kesulitan mendapatkan bensin, tapi kendaraan masih ramai aja di jalan. Bahkan macet! Suasananya mirip-mirip kaya di Tebet, Jakarta atau Kota Kebumen di Jawa Tengah. Ekspektasi saya, ya waktu jalan-jalan di sana suasana bakal lesu, sepi dan banyak toko tutup. Tapi ternyata, wah rame betul. Toko emas dan money changer malah ada di mana-mana. Parkiran toko handphone dan mall masih dipadati banyak kendaraan. 

Anyway, kalau yang berniat mau terbang ke Eropa atau ke Indonesia dengan harga 'terjangkau', silahkan dicoba SriLankan Airlines dan ambil transit panjang di Colombo. Buat yang ingin istirahat dan leha-leha selama masa transit, saya sarankan stay di hotel aja. Bisa kok jalan-jalan di sekitar sana. Tapi kalau yang penasaran dan ingin menantang adrenalin, berikut nomer Shamil +94 77 728 9570, driver sekaligus guide saya selama di Negombo. Jangan lupa mampir ke artikel ini yang penasaran dengan maskapai SriLankan Airlines ya!

xo.

Putri




You Might Also Like

0 comments

Subscribe