Paket Hemat ke Firenze. Modal Rp 100 ribuan buat jalan!

October 12, 2021

Di Eropa kalau sudah memasuki musim panas, haram hukumnya enggak pergi liburan. Karena cuma di musim ini aja kita bebas jalan-jalan tanpa pakai coat dan leluasa melihat pemandangan alam tanpa tertutup lapisan salju (catat, di Roma jarang turun salju hehe). Sebagai anak tropis, tentunya musim panas ini menjadi musim yang paling ditunggu. Beberapa destinasi mulai saya susun di wishlist, salah satunya Firenze atau yang lebih familiar dengan nama Florence.

Detail cantik dari Duomo di Firenze | Fotografi Dok. Listyan Putri

Akhir bulan lalu, salah satu teman yang berdomisili di Kota Calabria memberi tahu saya kalau ada armada bus baru yang mulai beroperasi di Italia. Namanya perusahaan baru, pasti sering ada promo. Dan promo dari si armada bus yang diberi nama Itabus ini enggak main-main. Iseng-iseng saya cek dari Roma ke Firenze harganya cuma € 2.50, dan perjalanan pulangnya € 3.50. Jadi, kalau ditotal saya cuma bayar € 6 untuk perjalanan pulang-pergi dari Roma ke Firenze. Atau setara dengan Rp 103.000! 

Memang berapa harga normal trip tersebut kalau lagi enggak ada promo? Kalau pesan untuk satu bulan sebelum perjalanan, paling murah harganya € 40 atau setara Rp 700 ribuan sekali jalan. Alangkah berdosanya kalau saya menyia-nyiakan promo ini hehe :)

Kemana aja selama di Firenze? Sebagai turis dadakan yang modal diskon dan no booking hotel-hotel club supaya lebih hemat, one-day-trip adalah kunci. Lho memangnya cukup jalan-jalan di Firenze sehari aja? Ya enggak cukup, tapi bisalah dicukup-cukupin dari jam 10 pagi sampai 7 malam. 

So, here is my list places when I was in Firenze which deserved to visit! 

1. Breakfast with Duomo di Firenze View (Cathedral of Santa Maria del Fiore)

Jangan ngaku pernah ke Firenze kalau belum liat gereja ini. Duomo di Firenze bisa dibilang ikon Kota Firenze. Gereja ini dibangun sejak abad ke-13 oleh Arnolfo di Cambio, dan bagian dome serta eksterior ditambahkan oleh Filippo Brunelleschi di abad ke-15. Bisa dibayangkan 2 abad untuk membangun gereja ini? Dari luar, gereja dengan gaya gothic ini memang cantik banget. Bener-bener cantik, bukan cuma bentuk bangunannya saja, tapi juga material sampai motif yang membungkus fasad gereja ini semuanya cantik dan wah. Mau masuk gereja ini? Bisa, gratis malah. Tapi sayangnya karena antrian luar bisa mengular, dan waktu trip saya yang pendek, okelah saya harus ikhlas untuk bisa memandangi dari luar. Untuk mengobati rasa kecewa karena enggak bisa masuk gereja ini, saya dan teman ngetrip menyempatkan untuk sarapan dulu di depan Duomo di Firenze. Kapan lagi sarapan dengan view gereja Renaissance cantik yang ikonik ini. Ditambah ada banyak pilihan bar yang bisa dicoba mulai dari bar yang looksnya biasa sampai yang fancy. Untuk sarapan kami berdua habis € 10. 



2. Palazzo Vecchio

Selain Duomo di Firenze, salah satu agenda turis kalau main ke sini adalah mampir ke Palazzo Vecchio yang terletak di Piazza della Signoria. Dalam Bahasa Inggris, Palazzo Vecchio artinya Old Palace. Di sini kita bisa melihat karya tiruan dari masterpiece Michelangelo, yaitu Davide Statue. Kenapa yang dipajang yang tiruan? Karena sebelumnya patung David versi asli memang diletakkan di depan gerbang masuk Palazzo Vecchio sebelum akhirnya dipindahkan ke dalam Galleria dell'Accademia bersama dengan karya masterpiece seniman yang lain. Adapun salah satu alasannya, untuk menjaga patung tersebut baik dari cuaca dan juga pengunjung.


3. Ponte Vecchio

Selain Duomo di Firenze, Ponte Vecchio adalah salah satu tempat yang wajib masuk catatan untuk dikunjungi. Kalau di atas tadi saya menceritakan sedikit tentang Palazzo Vecchio, nah tidak jauh dari sana kami melanjutkan perjalanan ke arah Ponte Vecchio. Dalam bahasa Indonesia Ponte memiliki arti jembatan. 

Di kanan kiri jalan kami disuguhkan dengan deretan toko-toko penjual perhiasan yang tertata apik dalam bangunan medieval. Tatanan jembatan dan toko-toko yang mengisi area ini merupakan usulan dari Ferdinando I de’ Medici (Grand Duke of Tuscany) lantaran sebelumnya penjual ikan dan daging yang berjualan di area jembatan tersebut kerap kali membuang sisa kotoran ke sungai dan mencemari area tersebut dengan bau tak sedap.

Selain itu, jembatan ini memiliki sejarah penting khususnya bagi masyarakat Firenze. Pasalnya, jembatan ini menjadi satu-satunya jembatan di Firenze yang lolos dari usaha pengeboman dari serangan Nazi saat terjadinya Perang Dunia II di tahun 1944.

4. Babae Ristorante

Apa menu makanan khas Firenze? Jawabannya Trippa Alla Fiorentina dan Bistecca alla Fiorentina. Alih-alih makan khas sana, teman saya justru enggak mau diajak makan trippa. Maklum, trippa di Italia artinya daging babat alias jeroan. Oh ada jeroan juga ya di sana? Ada, tapi ya sama kaya di Indonesia, enggak semua orang suka dan bisa makan jeroan. Banyak juga yang geli kalau liat bentukan jeroan hehe.



Akhirnya kami pun memutuskan untuk jalan tanpa tujuan, menyusuri jalan perkotaan, masu ke gang-gang kecil, sampai kami menemukan tempat yang cocok untuk makan siang. Dan sampailah kami di Babae Restaurant. 

Sejujurnya saya kurang setuju makan di sini. Dari namanya saja kurang Italy, interiornya juga ala industrial, duh enggak Italia banget deh. Karena memang saya lebih pengen makan yang otentik di Firenze. Tapi akhirnya kami memutuskan untuk makan di Babae, karena pilihan menu ikan dari restoran ini cukup menggugah selera.

Carpaccio Salmone khas Babae Ristorante | Fotografi Dok. Listyan Putri


Di Babae Restaurant, kami memesan menu Carpaccio Salmone dan Baccalà su Crema. Di luar ekspektasi, menu yang kami pesan bener-bener enak. Apalagi Carpaccio Salmone, potongan salmonnya dikasih banyak banget, malah sampai membentuk gundukan. Baccalà di sana juga enggak kalah enak dan segar. Untuk porsi makan kami berdua plus air putih kami menghabiskan € 30 untuk dua orang. Highly recommended!

5. Piazza del Carmine

Ngapain ke sini? Jujur selesai makan siang, saya ngantuk berat. Lalu iseng banget saya tanya sama waiter Babae Ristorante ada taman enggak dekat sini. Dengan polosnya saya bilang kalau kami ngantuk dan mau tidur di taman. Eh pas diniatin mau ke taman buat tidur, malah taman yang kami cari enggak ketemu. Lucunya, giliran lagi-lagi iseng jalan lagi eh nemu taman yang dimaksud dan berhasil bobok siang satu jam di sana. 

Photobox gaya vintage | Fotografi Dok. Listyan Putri
Tempat pembuangan sampah yang udah terpilah dan tersimpan rapi di bawah tanah.
Fotografi Dok. Listyan Putri
Bel apartemen dan kotak surat salah satu apartemen di Firenze. Cantik ya! | Fotografi Dok. Listyan Putri

Oh ya, salah satu kebiasaan orang Italia dan beberapa penduduk di negara Mediterania, selesai makan siang mereka biasanya tidur siang dulu. Jadi kalau nanti teman-teman mau liburan di kota kecil baik itu di Italia maupun Spanyol, jangan heran kalau di jam makan siang toko-toko banyak tutup. Umumnya mereka akan tutup toko dari jam 1 sampai 3 siang.

6. Chiesa di Santa Maria del Carmine

Gereja ini letaknya di depan Piazza del Carmine, piazza tempat saya tidur siang. Sebenernya gereja ini enggak ada di dalam list, tapi karena searah dengan arah yang akan kami tuju, jadilah mampir sebentar di sini.

7. Gelateria Santa Trinita

Jangan ditanya seberapa terik di Italia atau negara-negara Eropa bagian selatan kalau sudah memasuki musim panas. Bukan cuma panas, tapi juga kering. Dibanding di Indonesia, Italia jauh lebih menyengat dan bikin emosi. Puncak musim panas berlangsung di bulan Agustus, yang mana temperaturnya bisa mencapai 38-42°C dengan kelembaban udara sekitar 20% saja. Nah, di musim ini gelateria mulai dipenuhi orang-orang yang ingin berburu gelato. Jujur, saya bukan tipe orang yang bisa membedakan mana gelato enak dan enggak. Apalagi di sini makanan dan jajanan enak semua. 

Gelato 2 varian rasa, mangga dan stroberi | Fotografi Dok. Listyan Putri

Di bawah teriknya matahari dan perjalanan menuju Museo Ferragamo, pas banget kami ngelewatin Gelateria Santa Trinita. Dari luar kok ramai banget, padahal tempatnya kecil. Masuklah kami karena enggak pengen ketinggalan euforia orang yang berjubel di dalam sana. Tanpa berbekal informasi atau bahkan masuk checklist, ternyata rating tempat gelato ini tinggi juga, bahkan jadi tempat rekomendasi walaupun pilihan varian gelatonya enggak terlalu banyak. Tapi soal rasa, jangan ditanya. Enak, segar, dan harganya pun terjangkau, sekitar € 3 untuk cup kecil. 

8. Museo Ferragamo

Ini dia tempat yang ada di urutan pertama checklist saya. Pasti tahu kan sama brand Salvatore Ferragamo. Jadi, sebelum brand ini terkenal seperti sekarang, Salvatore, founder brand tersebut dulunya mengawali usahanya sebagai tukang reparasi dan jualan sepatu. Kini setelah usahanya mendunia, bisnis inipun diteruskan oleh keluarga dan berkembang bukan hanya di lini sepatu saja, tapi juga tas dan pakaian. Salah satu serunya tinggal di sini, khususnya buat pecinta mode, kita enggak cuma bisa lihat koleksi terbaru mereka, tapi juga bisa visit dan eksplor tentang bisnis brand tersebut melalui fondazione (yayasan) atau museo (museum). Contohnya brand Salvatore Ferragamo ini, karena berasal dari Firenze, jadi mereka juga punya museum yang bisa diakses oleh publik. Selain Salvatore, ada juga brand Gucci yang berasal dari kota ini.

Pintu masuk museum yang enggak kalah fancy sama storenya | Fotografi Dok. Listyan Putri

Salah satu section favorit di dalam museum | Fotografi Dok. Listyan Putri

Setiap tahunnya, Museo Ferragamo menggelar eksibisi dengan tema tertentu. Untuk tahun ini mereka memilih tema Seta yang dalam Bahasa Indonesia memiliki arti Sutra. Perjalanan panjang kenapa mereka memilih tema tersebut diuraikan secara detail mulai dari ketertarikan sang desainer dengan budaya dan sutra asal China, lalu dikembangkan dengan sentuhan khas Salvatore Ferragamo, hingga menginspirasi ke beberapa koleksi lainnya. 

Area audio visual di Museo Ferragamo | Fotografi Dok. Listyan Putri

Museum ini terbuka untuk umum. Lokasinya persis di belakang store Salvatore Ferragamo. Tiket masuknya € 8 per orang. Untuk pelajar dan mahasiswa, ada harga khusus kalau membawa kartu pelajar/mahasiswa. Meski saya sudah lulus, tapi karena masih punya KTM saya cukup membayar € 4 saja hehe. Di sana saya menghabiskan waktu sekitar 1,5-2 jam. Padahal museumnya kecil, tapi enggak tahu kenapa seru banget di dalamnya. Mungkin karena saya terlalu lama berandai-andai juga kapan ada brand Indonesia yang punya museum edukatif seperti ini. Oh ya, museum ini juga bisa diakses secara virtual dengan klik di sini.

Tiket masuk museum buat kenang-kenangan | Fotografi Dok. Listyan Putri

9. Basilica of Santa Maria Novella

Selesai dari Museo Ferragamo, agenda saya berikutnya adalah menuju area centrale, karena memang jadwal bus kembali ke Roma akan berangkat 2 jam lagi. Saat itu saya berpikir untuk naik bus atau tram menuju centrale, eh tapi malah keasyikan jalan dan nemu tempat-tempat seru sepanjang perjalanan pulang. Salah satunya Basilica Santa Maria Novella yang telah dibangun sejak abad ke-14.

Gereja Santa Maria Novella | Fotografi Dok. Listyan Putri

Eksterior gereja ini serupa dengan Duomo di Firenze, hanya skalanya aja yang lebih kecil. Tapi enggak kalah cantik! Apalagi di depan area gereja dihiasi taman dan bunga-bunga yang bermekaran sejak musim semi kemarin. Tentunya saya skip masuk ke dalam, tapi cukup puas juga berfoto-foto bagian luar gereja. 

Selesai ambil foto di Basilica Santa Maria Novella, berakhirnya juga perjalanan singkat ke Firenze kali ini. Meskipun cuma 'mampir' 9 jam saja, jalan-jalan dengan paket hemat kali ini cukup memuaskan. Masih ada beberapa list yang ingin saya kunjungi kalau nanti main Firenze lagi, seperti Museo Gucci, makan di Gucci Garden dan masuk ke Duomo di Firenze. Terima kasih teman-teman yang udah ikutan mampir di blog ini. 

Grazie mille a tutti, ci vediamo presto!

Baci,

Listyan

You Might Also Like

0 comments

Subscribe