Mitos atau Fakta: Kuliah di Roma itu ...

October 26, 2021

Minggu ini saya menerima pesan dari Instagram, dari salah satu pembaca blog ini, yang sepertinya tidak sengaja menemukan tulisan saya di tengah pencarian informasi (dan juga harapan) untuk sekolah di Italia. Sejak saya membagikan tulisan tentang serba-serbi kuliah di Roma tahun 2018, banyak sekali pembaca yang akhirnya menemukan profil di akun sosial media dan melanjutkan untuk berbagi kisah dan cerita. Good research and result tho!

Mitos atau Fakta: Kuliah di Roma_Listyan Putri
Sidang tesis dari rumah | Fotografi Dok. Listyan Putri

Capek enggak sih menjawab pertanyaan seputar kuliah di Roma? Saya pribadi malah senang. Karena salah satu misi saya bisa dibilang berhasil. Misi membantu teman-teman yang ingin melanjutkan kuliah di Italia, Roma ataupun luar negeri. Apalagi kalau bisa memotivasi dan secara tidak langsung mengantar mereka sampai di Italia. By the way, udah ada lho yang beneran sampai di Italia gara-gara nemu blog saya. Haru sekali rasanya kalau hal itu bisa terus terjadi setiap tahunnya :)

Nah, ngomong-ngomong soal sekolah di Roma, karena banyak sekali pertanyaan seputar kehidupan sehari-hari dan perkuliahan, kali ini saya akan mencoba merangkum hal-hal yang kerap kali ditanyakan begitu pula dengan mitos dan fakta tentang kuliah di Roma. Kalau ada yang mau menambahkan, boleh lho colek saya atau tulis di kolom komentar ya!

1. Mitos atau Fakta kalau .... kuliah di Roma harus bisa bahasa Italia?

Ini Mitos! Meskipun di Italia orang-orangnya masih banyak yang berbahasa Italia, tapi kalau teman-teman memutuskan untuk kuliah di kota besar seperti Milan, Roma, Turin, Venezia atau mungkin Napoli dan ambil kelas internasional, tentu teman-teman tidak perlu khawatir tentang bahasa pengantarnya. Meski bahasa pengantar Bahasa Inggris, tapi jangan lupa belajar Bahasa Italia juga ya, karena untuk mempermudah kita saat bersosialisasi baik itu dengan penjual atau petugas administrasi yang jarang bisa berbahasa Inggris :)

Mitos atau Fakta: Kuliah di Roma
Kunjungan ke salah satu atelier di Roma | Dok. Listyan Putri

2. Mitos atau Fakta kalau .... kuliah di Roma harus memiliki skor Bahasa Inggris minimal 550? 

Ini juga mitos! Saya berangkat ke sini dengan berbekal skor yang kurang dari 550. Saya pikir itu special case untuk saya. Eh ternyata, banyak teman-teman saya yang bernasib sama! Percayalah, berapapun skor tes Bahasa Inggris yang dipunya, coba dulu untuk apply ke kampus. Kalau diterima syukur, kalau enggak ya coba lagi tahun depan. Toh daftar kuliah juga banyak yang gratis. Hitung-hitung tes ombak. 

Saya dulu juga gitu, berbekal skor TOEFL yang pas-pasan, tapi karena mau tes ombak, ya tak apalah saya coba. Judulnya iseng-iseng berhadiah kan. Eh keterima, eh dapet beasiswa, terus kuliah deh. Kuncinya adalah, coba aja, kali aja rejeki hehe.

3. Mitos atau Fakta kalau .... kuliah di Roma harus melampirkan sertifikat IELTS?

Mitos. Beberapa kampus juga masih ada yang melonggarkan persyaratan. Saya akui tes IELTS itu mahal. Kalau tidak salah jurusan yang dulu saya apply (Arsitektur -- Produk Desain) syaratnya TOEFL PBT dan IELTS. Tahu enggak apa yang saya lampirkan? TOEFL PBT donk yang jelas-jelas lebih murah daripada IELTS. 

Nasib sidang thesis di tengah lockdown. Lulus dari rumah (temen) | Fotografi Dok. Listyan Putri

Triknya, coba dulu ambil prediction score untuk TOEFL sampai dapat skor yang sekiranya memuaskan. Kalau sudah mantap baru deh ambil tes TOEFL PBT atau IELTS. Skema ujiannya tentu berbeda jauh, tapi pastikan dulu syarat di masing-masing jurusan yang akan diambil. Oh iya, jangan ambil tes ini mendadak ya. Sebaiknya persiapkan 1 tahun sebelum daftar, jadi 6 bulan sebelum deadline pendaftaran kita sudah punya sertifikat dan bisa fokus untuk mempersiapkan yang lain. Tapi kalau teman-teman mau ambil IELTS juga lebih bagus, karena sertifikatnya bisa dipakai untuk daftar di semua kampus seluruh penjuru negeri. Balik lagi, cek soal syarat administrasi dan lagi-lagi cek ombak ya!

4. Mitos atau Fakta kalau .... kuliah di Roma didominasi orang-orang Italia di kelas?

Mitos. Seperti yang sudah saya singgung di atas, kalau kita memilih untuk ambil kelas internasional, bukan hanya bahasa pengantarnya saja yang internasional, tapi teman sekelas pun juga berasal dari berbagai negara. Bukan hanya datang dari negara-negara di Eropa saja, tapi juga dari Lebanon, Iran, Azerbaijan, Kazakhstan, China hingga India. Bahkan salah satu teman saya dari kelas arsitektur yang bilang, kalau di kelas enggak ada murni mahasiswa internasional alias enggak ada satupun mahasiswa Italia. Seru banget kan!

Selesai kuliah mahasiswa masih ramai nyamperin profesor | Fotografi Dok. Listyan Putri

5. Mitos atau Fakta kalau .... kuliah di Roma serba modern dan high-tech?

Haha ini murni mitos. Saya pun dulu membayangkan kalau kuliah di Eropa, dan juga Italia yang terkenal dengan desain, seni serta fashion, semua fasilitas yang ada di kampus pun akan serba modern dan high-class. Kenyataannya? Profesor yang mengajar kelas saya banyak yang masih pakai papan tulis serta kapur lho. Di kelas Fashion Drawing profesor bahkan mengajar teknik dasar fashion ilustrasi dengan papan tulis dan kapur. Luar biasa kan haha.

Salah satu kelas favorit saya, Fashion Drawing! | Fotografi Dok. Listyan Putri

6. Mitos atau Fakta kalau .... kuliah di Roma sama seperti kuliah di Indonesia?

Fakta. Sistem kuliah kurang lebih sama seperti di Indonesia. Tapi, di sini, dan mungkin sama seperti di beberapa negara Eropa yang lain, mahasiswanya bener-bener aktif. Bahkan kalau profesor melemparkan opini atau pertanyaan, rame lho yang mengacungkan jari di kelas. Mereka antusias banget kalau yang namanya disuruh mengemukakan pendapat. Dikasih tugas aja kadang masih suka speak up (baca protes). Buat saya, anak Indonesia yang lempeng-lempeng aja, dikasih tugas yang tinggal dikerjain. Secara pribadi tugas dari profesor di sini enggak seribet dan sebanyak tugas jaman kuliah di Indonesia. Jadi ya saya selow-selow aja waktu kerjain. 

Profesor terkece sepanjang saya kuliah di Sapienza. Stylish abis bok! | Fotografi Dok. Listyan Putri

Salah satu contohnya di kelas Digital Marketing yang pernah saya ambil. Saat itu menurut saya profesor kasih petunjuk tugas secara jelas. Yaitu bikin materi presentasi tentang web layout dan komparasi fashion brand. Di slide profesor menulis 10/20/30. Yang artinya 10 slides, 20 menit presentasi dan 30 menit total dengan Q&A kalau enggak salah ya, duh saya lupa 30-nya tentang apa.

Ketika waktu presentasi digelar, karena keterbatasan slides jadi banyak mahasiswa yang cuma menampilkan slides tanpa gambar. Di situ profesor protes, karena dibilang presentasi mahasiswanya yang monoton, cuma tabel-tabel, enggak menarik dan enggak lengkap. Tahu apa yang dilakukan teman sekelas saya? Protes! Salah satu teman ada yang vokal dan secara gamblang bilang kalau si Prof ini kasih guidelinesnya ambigu, dan protes kalau mereka mengerjakan tugas seperti petunjuk yang sudah ditulis di materi. Saat itu saya cukup ketar-ketir, pertama saya enggak ngikutin petunjuk profesor materi, karena saya pikir, ya mana cukup presentasi 10 slides. Dan lucunya apa yang saya pikirkan ternyata sama dengan apa yang dimaksud profesor. In the end of story, si Prof minta maaf, walaupun saya tahu ini lebih ke permintaan sarkas ya, karena mahasiswanya enggak selesai-selesai protes.

Guest Tutor untuk kelas Fashion Design | Fotografi Dok. Listyan Putri
Salah satu prototype dari koleksi Fendi dan Bottega Venetta | Fotografi Dok. Listyan Putri
Antonio Serrighi (kiri), desainer untuk beberapa merek high-end brand Italia
Fotografi Dok. Listyan Putri

7. Mitos atau Fakta kalau .... sistem ujian di Roma sama seperti di Indonesia?

Mitos. Ini nih yang paling seru. Waktu saya kuliah di Indonesia dulu, ujian saya serba tertulis dan presentasi. Untuk beberapa mata kuliah terkadang dosen memberi mid-test yang nilainya akan diakumulasikan dengan nilai ujian final. Nah, kalau di Italia, siap-siap latihan speaking deh! Karena ujian di sini rata-rata ujian oral.

Buat saya ini bukan cuma hal yang baru, tapi juga momok. Untungnya masalah ini juga dialami oleh mahasiswa lain, kecuali mahasiswa asal Italia. Jadi apa itu ujian oral? Ujian oral adalah ujian yang dikemas lewat tanya jawab (head-to-head) langsung oleh profesor dengan mahasiswa itu sendiri. Umumnya profesor akan memberi kita 3-5 pertanyaan yang materinya diambil secara acak dari modul yang telah diberikan. Untuk mata kuliah tertentu, atau yang jumlah materinya banyak, pernah lho saya dikasih 8 pertanyaan lebih. 

Begini kira-kira outfit profesor kalau ngajar di kelas | Fotografi Dok. Listyan Putri

Pertama kali saya ujian oral, Alhamdulillah gagal. Hilang semua ingatan di kepala. Saat itu saya cuma siapkan 3 hari untuk belajar. Ya saya pikir mudah-mudah saja toh semacam wawancara. Yang saya benci adalah, profesor seringkali lompat ke modul tengah untuk melihat kesiapan kita dalam ujian. Kalau kita bisa jawab pertanyaan di awal, masih ada harapan untuk dapat nilai bagus. Kalo failed, jangan harap banyak bakal bisa jawab pertanyaan yang lain. Karena yang namanya ujian, apalagi nervous, dan belum terbiasa dengan sistem seperti ini, gagal di pertanyaan pertama biasanya gagal juga ujiannya hahaha.

Ujian oral saya gagal saat itu, bahkan ada mahasiswa lain yang nangis. Beneran nangis di aula! Salah satu teman saya juga cerita kalau ada profesor yang marah karena si mahasiswa terlihat kurang serius mempersiapkan ujian, jadi kesannya buang waktu si profesor. Setelah merenungi nasib gagal ujian oral pertama, saya lihat ada salah satu teman Italia saya yang berhasil mendapatkan 30 e Lode (sempurna). Namanya Matilda. Lalu saya tanyalah ke Matilda berapa lama dia mempersiapkan ujian barusan. Percaya atau enggak, dia mempersiapkan 2 minggu hanya untuk ujian mata kuliah yang barusan kami ambil! Kalau saya gagal ya ternyata wajar ya, lha wong cuma nyiapin 3 hari mau dapet nilai bagus hehe.

Salah satu keuntungan kuliah online | Fotografi Dok. Listyan Putri

Anyway, awalnya saya benci sistem ujian oral yang ada di Italia. Tapi ternyata itu cuma masalah jam terbang dan mental aja kok. Karena lama-lama kalau sudah terbiasa, enak banget, karena kita tinggal ngomong, dan berpikir logis aja tentang materi. Asalkan beneran belajar dan paham materi. Enggak perlu dihapal. Satu lagi, saya setuju kalau harus mempersiapkan ujian jauh-jauh hari. Karena anak-anak Italia di sini mereka umumnya belajar dengan cara merangkum materi dari modul yang ada. Selebihnya, let it flow!

8. Mitos atau Fakta kalau .... kuliah di Roma bisa disambi part-time?

Fakta! Saya rasa hampir semua mahasiswa di Roma yang saya temui semua pernah ambil part-time. Entah itu mereka butuh duitnya atau cuma buat pengalaman dan iseng-iseng belaka. Kalau saya sih, emang butuh duitnya. Kuliah aja berangkat karena dapat beasiswa, mana beasiswa datangnya telat 6 bulan. Lho jadi curhat lagi kan saya. 

Jadi tour guide dan jalan-jalan terus :) | Fotografi Dok. Listyan Putri

Oke, jadi mahasiswa di Roma biasa ambil kerja paruh waktu, and thanks to Roma, karena kota ini memang jadi salah satu destinasi wisata. Jadi enggak heran kalau musim liburan tiba, banyak yang suka bolos kuliah biar bisa temenin tamu Indonesia alias jadi turis guide! Sisanya, ada juga yang kerja di Bed and Breakfast, untuk bersih-bersih atau cobain jadi waiter di bar. Seru deh pengalaman yang bisa buat tambah uang jajan!

9. Mitos atau Fakta kalau .... kuliah di Roma mahal?

Mitos. Saya bisa bilang ini mitos kalau kampus yang kita pilih adalah kampus negeri. Kalau kampus swasta alias kampus private ya jangan ditanya, tuition fee-nya bisa €12,000-50,000 per tahun. 

Memang berapa biaya kuliah kampus negeri? Biayanya kampus negeri juga cukup variatif, mulai dari € 1,000-3,000 per tahun. Murah banget kan? Bahkan lebih murah dari jaman saya kuliah arsitektur tahun 2007 di Indonesia ;')

10. Mitos atau Fakta kalau .... kuliah di Roma susah dapat beasiswa?

Lagi-lagi ini mitos! Saya enggak tahu di Eropa memang dari dulu pemerintahnya suka menggelontorkan dana pendidikan untuk mahasiswa pendatang atau baru akhir-akhir ini saja. Karena setelah saya riset dari 2016, saya menemukan 3 jenis beasiswa dari pemerintah Italia untuk mahasiswa non-Italia, dan satu diantaranya tidak ada batasan umur. Sangat disayangkan saya memulai riset tahun 2016 karena lebih lama galau milih destinasi sekolah ketimbang riset beasiswa. 

Suasana di kelas Symbology of Fashion | Fotografi Dok. Listyan Putri

Jadi, kalau teman-teman yang tahun depan belum berumur 27 tahun, selamat peluang sekolah dengan beasiswa masih terbuka lebar. Kalau yang buat di atas kepala 3 gimana? Toss dulu! Meski beasiswanya terbatas dan nominalnya enggak banyak, ada kok beasiswa regional yang siap menampung kaum-kaum berumur matang yang masih berambisi untuk sekolah lagi :)

Wah enggak kerasa sudah sampai di poin 10. Banyak juga ya haha. Kalau teman-teman masih ada pertanyaan atau simpang siur tentang serba-serbi kuliah di Italia, boleh banget DM saya atau tinggalkan di kolom komentar, siapa tahu bisa jadi bahan untuk masuk ke Mitos dan Fakta selanjutnya. Jangan lupa bagikan cerita ini ke teman, saudara atau orang terdekat yang membutuhkan ya!

Baci,

Putri



You Might Also Like

1 comments

  1. Biasa di Indonesia klu interview aku malah lebih suka daripada test tertulis. Tp waktu skolah di Swiss dan harus ujian oral rasanya lebih tegang, semua materi yg udah dihafal mendadak lenyap, hahaha... 😂

    ReplyDelete

Subscribe