Wisuda dan Tradisi Kelulusan di Italia

May 10, 2021

La Ragazza laureata in zona rossa
Fotografi Dok. Silmi Cahya


Memasuki bulan ke-5 di tahun 2021. Banyak sekali momen berharga yang dilalui dengan begitu istimewa. Meski memang harus diakui tidak semua yang diinginkan berjalan mulus. Diawali di Bulan Januari, saya memutuskan untuk mengambil single room di salah satu apartemen di daerah San Giovanni. Area di tengah kota, dan cuma butuh 10 menit jalan kaki menuju Colosseo. Semenjak pandemik ini memang banyak sekali Bed and Breakfast hingga hotel banting harga, dan mau tidak mau mereka mengubah strategi bisnisnya untuk disewakan bulanan. Kalo bukan karena pandemik, mana mungkin mahasiswa kaya saya ini bisa nyewa kamar single di daerah pusat kota. Yang udah-udah juga biasanya saya ambil kamar doppia alias shared room.                   

                                                        

Memasuki bulan Februari. Pekerjaan part-time lagi-lagi diambil, padahal saat itu bener-bener pengen coba fokus thesis. Tapi, kalo nolak kerjaan kok yaa pamali, apalagi di tengah kondisi yang sulit ini. Akhirnya tanggal 9 Februari lalu saya resmi daftar untuk judul tesis dan pengajuan kelulusan. Padahal deadline submit thesis 9 Maret. Iya, saya cuma punya waktu kurang lebih 1 bulan buat nyiapin thesis. Karena presentasi thesis sendiri diagendakan pada tanggal 24 Maret.

Sejatinya saya sudah menghubungi profesor sejak musim panas tahun lalu. Saat itu saya pikir kalau pandemik akan segera berakhir. Pandemik selesai, lulus, mudah dapat kerja. Begitu yang ada di otak saya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Pandemik belum usai ditambah program vaksinasi di Italia belum secepat di Indonesia.  


Beberapa hari sebelum deadline pendaftaran wisuda, Alhamdulillah profesor menyetujui judul tesis dan saat itu juga saya langsung bikin timeline dan deadline per chapter. Benar-benar ketat bikin jadwal, karena kalau meleset wah enggak lucu sih harus bayar ekstra tuition fee untuk tahun ajaran baru. Karena kebetulan di tahun ketiga ini saya memang membiayai sendiri untuk semua kebutuhan dan kehidupan saya di Roma, bukan dari beasiswa lagi. 

Dan akhirnya, setelah banyak tanya sana sini, gonta ganti judul, melanglang ke rumah teman  A, B, C hingga Z untuk mencari tempat yang khusyuk buat garap, thesis pun resmi dikirim tanggal 9 Maret. Satu hari setelah pengumpulan tesis, saya masih merevisi beberapa bagian yang dirasa masih kurang sembari nyicil dikit-dikit untuk materi presentasi. Hingga akhirnya, taraaam...saya lulus juga dan resmi menyandang Master of Arts (MA) satu hari setelah saya ulang tahun! Alhamdulillah.

    
Dan lulus bareng mantan roommate yang juga satu-satunya anak Indonesia di kelas. 

We did it Andi!

Foto ini diambil beberapa detik sebelum didatangi mobil polisi dan disuruh pulang :D
Fotografi Dok. Silmi Cahya

Sedikit berbeda dengan tradisi wisuda di Indonesia. Dulu saat saya wisuda dari program Sarjana, definisi wisuda identik dengan para mahasiswa yang akan memakai toga dan menghadiri seremonial di aula kampus. Lalu gimana dengan di Italia?

Bareng Architect-couple yang sering saya repotin, bahkan sampai wisuda :')
Makasih banyak Mas Sony dan Silmi.
Fotografi Dok. Silmi Cahya          


Salah satu alasan kenapa saya pengin sekolah lagi adalah pengin ngerasain lagi pake toga waktu wisuda. Kedengarannya aneh sih, tapi momen pakai toga dan ikut seremoni tuh campur aduk. Nyatanya, wisuda di Italia beda sama di Indonesia. Umumnya, graduation day di Italia digelar empat kali dalam satu tahun. Setelah si mahasiswa kirim tesis ke portal website kampus, lalu presentasi di waktu yang sudah ditentukan oleh pihak jurusan, selesai, pembacaan nilai dan voila lulus. Enggak ada acara yudisium, pendaftaran wisuda apalagi acara pinjam-meminjam toga haha. Jadwal kelulusan tiap jurusan juga beda-beda. Jadi, ya sederhana itu. Wisuda sebatas selebrasi. Dan semakin minimal ketika saya lulus kemarin. Yang mana pada saat itu seluruh provinsi di Italia dalam keadaan zona merah, orang-orang hanya boleh ke luar rumah dengan alasan tertentu aja. Ditambah, lulus via online :)

Curi-curi foto di tengah aturan zona merah
Fotografi Dok. Silmi Cahya


Tapi menariknya, di Italia ada tradisi khusus di mana para mahasiswa lulus akan mengenakan corona. Wah apalagi tuh? Jadi, corona di sini bisa dibilang 'mahkota' khusus yang dibuat dari daun Laurel (Laurus Nobilis) untuk dipakai setelah mahasiswa tersebut dinyatakan lulus. Laurel wreath termasuk benda yang sakral. Ditilik dari sejarah dan mitologi Yunani, tanaman Laurel ini menjadi tanaman yang disucikan untuk Dewa Apollo atau yang lebih dikenal sebagai Dewa Matahari. Bagi orang Romawi, Dewa Apollo juga dianggap sebagai simbol kecerdasan, kebijaksanaan dan kehormatan. Alasan inilah yang menjadikan mengapa sebuah kemenangan atau jasa seseorang digambarkan dengan menganugerahkan mahkota dalam bentuk ranting daun laurel sebagai mahkota.

Laurel Wreath juga bisa dimodifikasi lho sesuai permintaan calon wisudawan.
Kalau saya kemarin request ditambah baby wreath, pita merah dan pepe rosa.


Perlakuan yang sama juga diberikan kepada para penyair dan penulis terkenal pada zaman dahulu. Salah satunya Dante Alighieri, penyair dan filsuf dari Italia. Karya-karyanya yang melegenda, menjadikan sosok Dante dijuluki sebagai Supreme Poet dan berhak diberikan laurel wreath. Begitu pula Julius Caesar, Raja Romawi yang dinobatkan sebagai pemimpin yang berkarakter dan kuat. Tradisi inilah yang sampai sekarang masih dipertahankan dan terus berlangsung dengan pemberian laurel wreath bagi para wisudawan (laureato) agar mereka menjadi bagian dari lingkaran orang bijak dan berkomitmen berkat studi yang telah dilakukan dengan pengorbanan dan memberi dampak positif dari ilmu yang telah didapat. Hmm, dalam sekali ya maknanya :)

Adakah yang akhirnya berminat untuk sekolah di Italia? Oh iya satu lagi, salah satu selebrasi yang biasa dilakukan para laureato, yaitu menandai kelulusan dengan membuka botol prosecco dan selebrasi di landmark kota tersebut. Berhubung saya tinggal di Roma dan ada banyak sekali landmark di kota tersebut, akhirnya saya dan teman-teman menyempatkan diri (lebih tepatnya curi-curi) untuk foto-foto di depan Colosseo hehe. 

Dottoressa Master of Arts
Fotografi Dok. Silmi Cahya

Sekali lagi, terima kasih untuk teman-teman yang sudah banyak mendukung hingga saya akhirnya bisa melewati pasang-surut kehidupan dan berada di titik ini (Alhamdulillah bisa lulus juga ya hehe), khususnya teman-teman yang sudah mengikuti dan menyempatkan diri untuk mampir di blog dan instagram saya. Benar-benar terharu deh kalau ternyata tulisan saya tentang studi di Eternal City khususnya artikel Liburan (atau Kuliah) di Italia dan 11 Langkah-Langkah Persiapan Sekolah di Italia mendapat banyak sekali feedback positif, bahkan beberapa diantaranya ada yang beneran sekolah di Italia huhu. Terharu :')

Last but not least, mohon doanya ya teman-teman agar kedepannya diberi banyak kemudahan dan keberuntungan di perantauan, doa dan harapan yang sama juga berlaku untuk teman-teman semua. Jangan lupa mampir ke kanal Youtube saya di sini, bentar lagi saya mau cerita tentang musim semi di Roma. Sampai jumpa di artikel berikutnya!

--

un abbraccio,

Putri



You Might Also Like

5 comments

  1. Congratulation beib semoga sukses dan sehat selalu disana...Aamiin

    ReplyDelete
  2. Selamat atas kelulusannya mba :). Sederhana banget ya prosesi kelulusan di Italia. Ga ada edisi make up dari jam 3 pagi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Mba Febrina, salam kenal, makasih udah mampir di blog. Yup, cuma foto2 aja yang penting pake corona :)

      Delete
  3. Yey finally, selamat ya untuk kka. Seneng banget bisa ketemu blog ini. Bener" menginspirasi bangett. Aku nyicil baca blog kka kalau pas istirahat ngerjain tugas.. huhuhu seneng banget. Semoga dipermudah untuk kedepannya ya ka

    ReplyDelete

Subscribe