If Something Destined For You, It Will Come To You

December 28, 2020

Sebelum menutup tahun 2020 yang begitu banyak kejutan, rasanya saya harus membagi salah satu 'kejutan' ke blog ini. Ada satu kejadian, yang kalau diingat-ingat sampai saat ini, saya masih sering enggak percaya. Peristiwa yang saya alami saat itu seperti (semoga) penutup keapesan atas sekian banyak cobaan yang telah dilewati dalam dua tahun terakhir.


Sabtu, 14 November 2020

Kejadiannya persis di bulan lalu, November. Kebetulan Sabtu pada pekan itu, salah satu teman yang juga pelajar Indonesia di Roma, Sandra, balik ke Roma dari libur panjangnya di Swedia. Lantaran sebelum berangkat ke Swedia, Sandra memutuskan untuk 'lepas apartemen', maka setelah masa liburan usai ia pun memutuskan untuk menginap di salah satu B&B daerah pusat kota untuk transit sementara. Karena setiap akhir pekan selalu ada agenda virtual meeting persiapan acara Simposium PPI Italia dan kebetulan sekali di minggu depannya saya masih ada ujian, maka dibuatlah rencana hari itu untuk ikut stay bareng Sandra di B&B. Maksudnya sekalian nyicil belajar sambil cari suasana baru yang lebih tenang.

Setelah janjian pada siang harinya, usai hujan reda, saya berangkat ke tempat Sandra. Tapi sebelumnya saya terlebih dulu mampir ke Conad (supermarket) untuk belanja beberapa cemilan. Selesai belanja, langsung menuju ke B&B dengan memilih rute yang sekiranya banyak dilalui pejalan kaki dan cukup ramai. Karena memang, di Roma khususnya daaerah yang akan saya kunjungi ini terkenal rawan copet. 



Akhirnya saya memilih untuk melewati Via Principe Armadeo, karena yakin sekali di sepanjang jalan ini akan banyak bar dan restoran yang masih buka. Alhamdulillah iya. Masih banyak restoran dan toko-toko di sepanjang jalan yang masih beroperasi meski pemerintah telah memberlakukan aturan baru terkait jam operasional bar atau restoran hingga pukul 6 malam. 

Malangnya, saat saya tengah berjalan melintasi Alfredo Ristorante, dari arah belakang munculah seseorang yang mengendarai motor (di atas trotoar) berusaha untuk merampas tas saya. Berbekal tote bag berisikan laptop, dompet dan beberapa catatan di dalamnya, saya pun berusaha keras memegang tas itu. Salah memang. Sore itu saya memakai tote bag di sisi kanan. Sementara itu tangan kiri saya sibuk memegang tas belanjaan. 


Dalam kondisi panik dan ketakutan, saya menjerit sekeras mungkin. Tentu sambil memegang gagang tas.  Plastik belanjaan sudah terlebih dulu jatuh di trotoar. Hingga pada akhirnya saya terjatuh dan terseret bersama si motor penjambret. Jadi, penjambretnya jatuh juga? Tidak. Dia tetap mengendarai motor sambil berusaha mempertahankan tas saya, sementara badan saya sudah terseret-seret di sepanjang trotoar. Satu-satunya yang bisa saya lakukan hanya teriak sekencangnya dan mempertahankan harta benda semampu saya, meski saya enggak terlalu ingat apa aja isi di dalam tas. Kejadian itu berlalu begitu cepat. Dengan badan dan kepala yang terseret-seret motor, saya masih sangat sadar bahkan untuk melihat orang-orang di tempat kejadian. Mereka semua hanya terdiam. Sampai akhirnya, saya pun berpikir...

"Put, ini udah gila. Lepas Put, lepas!"   

Saat itu juga saya meregangkan genggaman tangan yang masih memegang gagang tas. Dimana beberapa detik sebelumnya saya berusaha sekuat tenaga mempertahankan itu semua dari tangan si penjambret. Saya benar-benar syok. Badan saya pun terpapar di atas trotoar, mungkin terseret 8-10 meter dari tempat kejadian semula. Sekujur tubuh benar-benar bergetar semua. Berharap datang beberapa orang yang menghampiri untuk menolong, oke setidaknya membantu membangunkan saya, atau paling tidak menenangkan. Dengan perasaan yang masih campur aduk, saya pun duduk dengan jiwa yang masih kacau balau. Hingga akhirnya saya ingat,

"Ah tidak. Tas itu. Dia bawa tas itu. 

Lengkap dengan Macbook dan dompet."

Tote bag favorit yang sering dipakai kemana-mana

Badan saya benar-benar lemas. Rasanya ingin sekali menangis saat itu. Tapi ternyata tidak ada setetes pun air mata yang keluar. Saya tidak tahu mesti ngapain. Pasalnya, memang tidak ada orang yang datang menolong atau bahkan menghampiri saya. Dua orang tamu restoran masih duduk di meja luar, yang saya liat betul mereka menyaksikan saya yang tengah tersere-seret di trotoar. Seorang waiter yang saya lewati sebelum kejadian itu, juga masih berdiri di posisinya. Yang lebih kesalnya lagi, si owner restoran yang katanya saat kejadian berada di dalam, malah lagi sibuk telponan di luar, di trotoar dimana saya masih terkapar.

Dengan langkah tergopoh, saya memunguti barang-barang yang berserakan. Dan tentu memaki orang-orang di sekitar. Beruntungnya, saya menemukan handphone yang terlempar beberapa meter dari tempat kejadian. Langsung saya menelpon kolega dengan suara bergetar dan bilang,

"Stef, aku kejambret. Tasku dibawa kabur. 

Ada laptop sama dompet. Semuanya hilang, Stef."

Farfalle al Pomodoro, masakan berat pertama yang berhasil masuk mulut satu hari setelah kejadian

Ia pun mencoba menenangkan dan segera merekomendasikan untuk melapor ke kantor polisi. Beberapa kolega lain membantu saya melacak devices saya dari aplikasi. Beruntungnya saya memiliki teman dan kerabat orang Italia yang baik-baik.

Singkat cerita saya pergi ke kantor polisi, sendiri. Memang enggak ada orang yang mengantar dari pihak resto? Enggak ada. Entah dimana hati nurani mereka, malah si pemilik resto itu sempat tanya ke saya,

"Oh saya harus nelpon polisi untuk datang ke sini? Atau kamu mau ke sana aja?"

Untungnya saya masih punya semangat untuk melangkah ke kantor polisi. Meski sempat ditolak di kantor polisi pertama karena tutup, di kantor polisi kedua saya dilayani dengan sangat baik. Bahkan si polisi sempat bertanya soal beberapa luka di tangan karena memang ada beberapa lecet dan darah. Ia pun meminta saya untuk mengingat lebih detail seperti plat nomer, jenis motor, helm hingga wajah si pelaku. 

Beberapa lecet dan lebam di tulang kering.
Lebam di panggul bisa dibilang yang paling parah, baru benar-benar hilang setelah jeda 2 minggu ;)

Tapi dari hasil saya melapor, saya sudah cukup tenang karena saat itu juga polisi yang berjaga di front desk segera menelpon rekannya untuk melaporkan kasus saya barusan (entah mereka akan berpatroli di sekitar atau tidak) dan mencari tahu lokasi hingga foto tampak depan restoran yang diambil dari internet. 

Setelah menumpang toilet dan menyadari pinggul mulai lebam, saya berpamitan dengan polisi sambil membawa berkas laporan. Waktu saya tanya tentang kemungkinan tas itu balik, polisi pun menjawab bahwa ada kok kemungkinan itu datang. Meski saya tahu, ia hanya berusaha menghibur dan menenangkan saya.

Selasa, 17 November 2020

Setelah melewati hari-hari dengan penuh rasa gelisah dan insecure (well, ini benar-benar terasa dan mengganggu psikis), saya yang tidak punya laptop pun mengisi waktu luang dengan belajar menggambar lagi, dengan teknik watercolouring. Saya menikmati proses healing saat saat itu. Membiarkan semua alur dan takdir berjalan seperti yang sudah seharusnya. Dan tentu saja belajar mengikhlaskan. Mungkin saya bisa beli laptop lagi, tapi mengulang dan mengumpulkan data-data dari awal tentu menjadi hal yang akan sangat melelahkan.

Salah satu kegiatan produktif setelah laptop dan dompet raib

Malamnya, saya berpikir untuk mulai membuka lembaran baru dengan membeli laptop lagi. Meski laptop yang hilang itu sebenarnya baru dibeli pada Bulan Mei lalu saat saya balik ke Indonesia. Sebelum tidur saya sempatkan browsing toko-toko laptop di dekat rumah yang bisa saya kunjungi. Yah, yang penting saya harus memulai babak baru dengan semangat yang baru.

Rabu, 18 November 2020

Siangnya saya mengantri di Poste Italiane (kantor pos). Berharap bisa apply SPID (salah satu program dari pemerintah Italia) dan kebagian bonus dari pemerintah setempat. Kata salah satu flatmates, ada bonus 350 Euro dari pemerintah bagi pelajar yang mau membeli perangkat elektronik. Itu juga kalau masih berlaku. Tapi, saya coba jalan itu. 

Di tengah antrian yang mengular di halaman depan Poste, saya mencoba meraih handphone untuk mengecek whatsapp. Wah, kebetulan sekali giliran saya pegang handphone eh ada telpon masuk. Karena memang handphone biasanya saya setting silent. Waktu saya angkat,

"Pronto Listyan. Sono Polizia. Abbiamo la tua borsa....."

yang artinya kurang lebih "Halo Listyan. Saya polisi. Tas kamu sudah ada di kami...."



Awalnya saya sempat mikir, duh tipuan apalagi ini. Tapi si polisi meyakinkan saya kalau saya beneran enggak nih korban jambret minggu lalu. Yang lebih bikin terharu, laptopnya masih ada di tas, lengkap dengan adaptor, dompet dan dokumen. Ternyata si penjambret cuma ambil uang cash. Saya cuma bisa melongo saat itu. Bener-bener enggak percaya. Segera saya diminta datang ke kantor polisi untuk membuat surat keterangan dan mengambil barang-barang tersebut. 

Di perjalanan menuju kantor polisi, saya masih bengong di tram. Setengah tidak percaya, tapi ini nyata. Bahkan sesampainya di kantor polisi, dengan wajah sumringah, polisi menceritakan kalau kejadian jambret sebenarnya kerapkali terjadi, tapi sampai tas balik lengkap dengan laptop, tentu itu miraccolo (miracle). Katanya lagi, saya perempuan yang sangat beruntung.

Dari kejadian ini, saya belajar untuk lebih berhati-hati, khususnya saat bawa tas. Kedepannya, saya selalu membawa backpack kalau memang kegiatan saya mengharuskan membawa laptop. Kalau saya saat itu beli laptop lagi, tentu bujet itu diambil dari uang tabungan yang seharusnya dipakai  untuk bayar sewa apartemen di bulan-bulan mendatang. Tapi, yah sudah, ikhlas. Nanti pasti ada lagi rejekinya. Dan, itu nyata.

Mengikhlaskan semuanya pergi, pasrah dan menyerahkan semuanya pada Allah seperti menjadi pengingat bahwa hidup memang penuh misteri dan selalu ada jalan keluar dariNya atas masalah apapun itu. Ini memang lucu, tapi mulai dari masalah beasiswa saya yang telat, hingga di tahun berikutnya saya cuma dapat beasiswa setengah, kehilangan pekerjaan, hingga masalah pribadi, kunci saya saat itu benar-benar pasrah dan ikhlas. 

Alhamdulillah, Allah bukakan pintu rejeki yang lain. Rejeki itu memang enggak kemana, karena semuanya sudah diatur olehNya. Dan rejeki saya di sini Alhamdulillah lancar, teman dan keluarga di Roma bukankah rejeki yang tidak ternilai harganya, khususnya bagi saya si anak rantau :)

______

A popular Arabic proverb says: 

إذا الشي من نصيبك عمره ما يكون لغيرك 

If something is destined for you, never in a million years will it be for somebody else



You Might Also Like

1 comments

  1. Thanks to share this experience. It gives me a glance of reality in Italy before I come. Anyway, I sent pm through ur fb, pls check this out. Thanks...

    ReplyDelete

Subscribe