Perjalanan tanpa Ekspektasi: Spittal an der Drau, Austria

October 21, 2020


Spittal an der Drau, Austri
Ini dia pemandangan di belakang komplek yang segar banget
Fotografi Dok. Listyan Putri

Awal Juli lalu, saya memutuskan kembali ke Roma setelah penerbangan internasional Italia resmi dibuka. Enggak terasa sudah genap lima bulan tinggal di Indonesia. Dari awal Maret hingga minggu pertama Juli. Secara teori, saya seharusnya pulang ke Indonesia untuk magang selama satu bulan di Bali dan balik ke Roma di bulan April. Realitanya, mudik kemarin mengharuskan kita semua untuk #stayathome. Tiket PP yang sudah keburu dibeli mau tidak mau dihold sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Salah satu sudut halaman belakang rumah, tetep view Pegunungan Alpen 
Fotografi Dok. Listyan Putri

Setelah bolak balik kirim email dan telpon ke customer service perwakilan maskapai yang ada di Indonesia, akhirnya tiket flight ke Roma resmi sampai tangan. Wah senangnya bukan main! Beberapa to do list mulai disusun jelang keberangkatan. Salah satunya: Traveling!

Lho kok bisa traveling di masa pandemik? Sebenarnya saat penerbangan ke Italia dibuka, beberapa negara di EU juga sudah mulai membuka akses penerbangan mereka karena angka kasus baru Covid-19 di masing-masing negara sudah mulai turun. Saat itu pertambahan kasus baru bisa dibilang cukup rendah, tidak lebih dari 500 orang. Bahkan di negara kecil seperti Austria sendiri, daily new cases kurang dari 100. Salut banget!

Semuanya hijau, mirip kok sama daerah Puncak
Fotografi Dok. Listyan Putri

Berawal dari balas-balasan instastory dengan teman lama yang saat ini menetap di Austria, Christin, ia pun menanyakan kapan saya ada waktu untuk main ke rumah Christin sekeluarga di Spittal An Der Drau, sebuah kota kecil di Austria yang letaknya dekat dengan perbatasan Austria-Jerman. Saya baru sadar, selama tinggal di Eropa belum pernah sekalipun main ke rumah concert buddy yang satu ini. Tahun lalu pun kami ketemu di London lagi-lagi untuk nonton konser reuni Westlife, yang mana setelah itu rencananya kita akan ketemu lagi tahun ini di Irlandia (iya ini masih soal konser Westlife Lol).

Sebelum Christin melemparkan pertanyaan itu, sejatinya saya sudah terlebih dahulu menyusun rencana liburan singkat tanpa rencana dan itinerary. Meski belum tahu mau ke negara mana, tapi negara seperti Perancis dan Spanyol sudah masuk ke dalam bucket list terlebih dulu. Keduanya pernah saya kunjungi tahun lalu dan enggak (atau belum) pernah bosan. Akhirnya, 5 hari sebelum hari keberangkatan, saya pun memutuskan untuk beli tiket bus ke Villach, Austria. So, here I go!

Ruas jalan masuk ke arah komplek | Fotografi Dok. Listyan Putri


Lintasan kereta api yang ada di dekat komplek rumah.
Jalan aspalnya rapi banget di sini | Fotografi Dok. Listyan Putri

Perjalanan dari Roma ke Villach (Austria) kurang lebih memakan waktu 12 jam dengan flixbus (50 Euro). Dari Roma harus transit dulu ke Venice dan menunggu jadwal keberangkatan berikutnya sekitar 2 jam kemudian. Sejauh ini perjalanan panjang dengan bus atau kereta saya masih bisa betah dan enjoy

Meski traveling ke Austria sebelumnya tidak ada dalam wishlist saya, tapi namanya pergi tanpa ekspektasi tuh memang jauh lebih berkesan. Sepanjang perjalan menuju rumah Christin, saya disuguhkan pemandangan Pegunungan Alpen, yang mana pemandangan tersebut dulu cuma bisa saya lihat di di iklan coklat Alpenliebe :)


Kebayang enggak cantiknya pegunungan ini yang selalu ditutupi salju saat musim dingin tiba | Fotografi Dok. Listyan Putri

Sesampainya di Villach, saya dijemput Christin sekeluarga, diajak jalan-jalan sebentar sebelum akhirnya kami balik ke rumah mereka di Spittal an der Drau. Sesampainya di rumah, wah bahagia banget rasanya. Senang bukan main saat akhirnya bisa ngerasain definisi 'rumah' yang sebenarnya di Eropa. Hahaha. Karena selama tinggal di Eropa, khususnya di Roma, definisi rumah di sini ya apartemen, bukan landed house seperti kebanyakan orang Indonesia biasa tinggal. 

Sorenya, saya diajak bersantai di taman belakang rumah, yang mana saya sempat syok karena halaman seluas itu murni ditanam oleh Christin dan suami, Werner. Ada pohon apel, walnut, cemara, raspberry hingga herbs yang biasa Christin petik sebelum masak.


Pagar di daerah sini harus pakai tanaman yang tingginya tidak boleh lebih dari 2 meter | Fotografi Dok. Listyan Putri

Salah satu rahasia kenapa area komplek tetap rapi, ternyata ada petugas yang khusus merawat area hijau di sana
Fotografi Dok. Listyan Putri

Untuk menjawab rasa penasaran di komplek sekitar, keesokan harinya, setelah selesai sarapan, saya iseng keliling area perumahan. Pengen banget tahu gimana sih orang-orang di Spittal an der Drau tinggal? Ternyata, walaupun mereka tinggal di kota kecil, mereka sangat ramah dan bisa berbahasa Inggris lho! Kalau papasan di jalan pasti disenyumin atau sesekali mereka sapa dengan Bahasa Jerman "Guten morgen". Bahkan ada juga yang berenti dan tanya asal saya dari mana. Mungkin karena mereka jarang melihat orang berkulit coklat dan berambut hitam di sana hehe.

Apapun itu, Spittal an der Drau, berhasil membuat saya tersenyum dan bahagia sebelum saya melanjutkan ke destinasi negara Eropa yang lain. Saat saya menulis blog ini, Christin lagi-lagi menanyakan saya kapan ke Austria lagi, karena di musim dingin, pegunungan Alpen yang ada di belakang rumah mereka akan diselimuti salju. Aduh, indah banget pasti! Sebelum saya melanjutkan tulisan lain, yuk intip foto-foto di sekitar rumah teman saya. Ada yang udah mulai mupeng belum? :)

You Might Also Like

2 comments

  1. Halo ka mau nanya dong. Beasiswa kka ini berapa ya dapat nya perbulan dan biaya kuliah persemester nya ditanggung nggk?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tahun pertama 2500, tahun kedua klo renewal bisa dapet 2500 (sisa tahun pertama) + 5,000 (tahun kedua), dan biaya kuliah udah dtanggung mereka, kita cuma bayar tax aja. Kalo kmu under 27thn ada byk beasiswa dgn nominal yg lebih besar :)

      Delete

Subscribe