Suka Duka Jadi Mahasiswa Rantau di Italia (Part. 1)

August 27, 2020

Setelah hampir 5 bulan menghabiskan waktu di Indonesia karena pandemi, akhirnya di awal Bulan Juli saya memutuskan untuk: Balik ke Italia! Lho emang udah aman? Oh ada penerbangan ya ke sana? Kenapa balik sana lagi? Nah, mungkin memang belum banyak yang tahu, kalau sebenarnya tujuan saya balik ke Indonesia awal Maret lalu karena mau ambil kesempatan magang dan riset tesis di Bali. Saat itu memang angka kasus corona sedang tinggi di Italia. Dan memang saya sudah merencanakan hal itu sebelum ada pandemi ini. Tapi apa mau dikata, seperti kata orang, the show must go on baby! Saya mulai melupakan rencana untuk lulus di musim panas tahun ini dan mempersiapkan Plan B. Adapun salah satu isi dari rencana tersebut adalah : Lulus Januari 2021!

Salah satu kegabutan selama tinggal di Roma: Ngajak pelajar Indonesia yang kuliah di London 
buat makan McD di depan Fontana di Trevi | Fotografi Dok. Listyan Putri

Karena sudah memasuki tahun ke-2 kuliah, yang mana kelas juga sudah habis dan hanya menyisakan ujian (kalau mau ngulang buat perbaikan nilai). Saya juga tengah membuat rencana untuk rencana lain, yaitu magang dan tesis. Bakalan sibuk riset, riset, dan riset selama 6 bulan ke depan. Kadang kalau mood lagi kacau dan banyak rencana gagal di tengah jalan, saya sering mikir, kok saya sudah ada di titik ini, rasanya baru kemarin saya mondar mandir ke kampus lama buat minta surat rekomendasi dan ujian TOEFL. Sebelum saya fokus untuk rencana 6 bulan ke depan saya, kali ini saya mau sharing tentang suka duka jadi mahasiswa di Italia. Selain banyak yang menanyakan hal ini, lewat tulisan ini semoga bisa menjadi gambaran dan bisa dipersiapkan buat teman-teman yang akan merantau 12,000 km dari Indonesia. 

1. Sekolah biaya sendiri atau beasiswa?
Wah ini FAQ setelah saya sampai di sini. Dan saya tidak pernah bosan untuk menjawab : Tettt....Beasiswa! Bukan beasiswa dari Pemerintah Indonesia, tapi saya dapat beasiswa ini dari Pemerintah Regional Provinsi Lazio, Italia namanya Laziodisco. Beasiswa ini buka setiap tahunnya, sekitar bulan Juni. Untuk info selengkapnya bisa dicek di http://www.laziodisco.it/

Hasil pengumuman beasiswa di laman Laziodisco | Fotografi Dok. Listyan Putri

2. Dapet apa aja dari beasiswa itu?
Bebas uang kuliah (tuition fees), tapi kita tetap bayar goverment tax sebesar kurang lebih 180 €/tahun. Nantinya uang itu akan dikembalikan di installment tahun ke-2 setelah kita renewal. Selain bebas uang kuliah, kalau kita apply asrama dan lolos, kita bisa tinggal di asrama dengan lokasi yang sudah kita pilih sebelumnya. Gratis? Tentu tidak. Tapi selama kita tinggal di asrama kita hanya dibebankan 100-150 €/bulan. Sementara sewa apartment di sini sekitar 350-500 €/bulan. Lalu apalagi yang benefit dari beasiswa ini? Uang saku 5,000 €/tahun untuk biaya hidup. Tapi jangan senang dulu, di tahun pertama kamu cuma akan dapat setengahnya alias 2,500 €, sisanya baru akan diakumulasikan kalau kamu memenuhi syarat untuk renewal di tahun berikutnya. Ada juga uang buku, yang ini saya belum pernah pakai. Dan satu yang seru adalah diskon makan di kantin. Bisa dilihat tabel di bawah ini kalau untuk tahun ajaran 2019/2020 saya cuma dapat beasiswa setengah. Kenapa? Karena saya melakukan kesalahan, perkara salah centang salah satu kolom pertanyaan dan kesalahan itu mengidentifikasi kalau saya selama ini permanent resident dan punya keluarga di Italia. Nominal dari beasiswa ini kalau dikonversi ke rupiah memang banyak. Bisalah buat DP rumah hehe, tapi nilai segitu kalau untuk hidup di Italia tanpa banting tulang sebagai part-timer tentulah sangat mustahil. But, I blessed from where I stand :)

Jumlah beasiswa yang diterima dari pemerintah Lazio | Fotografi Dok. Listyan Putri

3. Kuliah pakai bahasa apa di sana?
Saya ambil international class tentunya, karena skill bahasa Italia saya masih sebatas lagu-lagunya Josh Groban dan Andrea Bocelli. Mungkin banyak yang belum tahu kalau banyak sekolah-sekolah di Eropa khususnya negara non-berbahasa Inggris yang punya program kelas internasional. Memang kelasnya enggak sebanyak kelas bahasa negara tersebut, tapi di Roma khususnya, banyak program master yang dibuka dengan bahasa pengantar bahasa Inggris begitu pula untuk level bachelor. Jadi aman kan hehe.

4. Ujiannya susah enggak di sana?
Ini dia salah satu hal yang menantang kuliah di sini. Di Italia, ujian bukan cuma perkara written exam aja, tapi juga ada oral exam. Maksudnya? Tes wawancara alias tanya jawab gitu. Memang hal seperti ini belum terbiasa di kita. Jadi skema ujiannya, profesor akan memanggil nama mahasiswa satu per satu sesuai daftar hadir ujian, lalu kita akan ditanya pertanyaan secara random. Sebisa mungkin kita jelaskan secara panjang dan detail, karena kalau enggak, wah bakalan jadi sasaran empuk si profesor untuk ulik pertanyaan seputar topik itu. Jadi susah apa enggak oral exam itu? Hmm, pertama kali saya oral exam untuk mata kuliah wajib History of Art. Di dalam ruang ujian itu sudah ada lebih dari 80 mahasiwa yang menunggu giliran dipanggil. Semuanya sibuk belajar dan menghafal materi. Saat itu saya ngerasa kalau 2 hari belajar itu sudah cukup. Tapi begitu nama saya dipanggil, wah ilang semua hapalan saya tentang teori mata kuliah itu. 

Tentu saja saya enggak lulus, karena dengan pasrahnya saya bilang, 
"Prof, well I don't remember anything. I'm sorry." 

Ujian oral yang head to head langsung sama profesor | Fotografi Dok. Listyan Putri


5. Gimana caranya persiapan belajar menjelang ujian? 
Dulu jaman saya kuliah S1, karena ujian mostly based on project, jadi pas hari H tinggal presentasi aja, karena dosen bakal menilai dari materi (konsep desain) dan project kita. Jadi untuk nyiapin satu project biasanya sudah dicicil dari awal semester, paling 2-3 hari sebelum ujian baru dikebut. Nah, kalau di sini, karena ujian rata-rata teori, jauh-jauh hari sebelum ujian pasti saya nyiapin buat bikin ringkasan materi. Satu mata kuliah biasanya ada 18-20 presentasi, yang masih-masing pptx ada yang cuma 10 slides hingga 40 slides. Baru deh 3 hari sebelum ujian saya baca, hapalin, baca lagi, baca, dan baca terus sampai gumoh. Untuk ringkasan sendiri umumnya saya siapin 10-14 hari sebelum ujian. Itu baru 1 mata kuliah.

Ada juga profesor yang pakai sistem mid-test. Kalau nilai mid-test dan project kita dirasa cukup, kita bisa ambil nilai itu. Tapi, kalau kita masih kurang puas dengan nilai akhir, kita diberi kesempatan untuk oral exam sampai kita merasa cukup puas dengan nilai kita. Materinya gimana kalau oral exam? Semua materi, dari A sampai Z. Di sini batas minimal lulus 18/30. Nilai 30 adalah nilai tertinggi, ada juga yang dapet 30 e Lode (30++ atau 31) kalau ujian kita emang super perfect
Tampilan apps kampus versi mobile. Dari apps ini kita bisa pantau nilai ujian yang sudah masuk atau belum sampai jadwal ujian | Fotografi Dok. Pribadi
Tampilan apps kampus versi mobile. Dari apps ini kita bisa pantau nilai ujian
yang sudah masuk atau belum sampai jadwal ujian | Fotografi Dok. Listyan Putri


6. Apa syaratnya kita boleh ikut ujian?
Menurut saya, syarat ujian di sini tergolong longgar dibanding syarat ujian saat S1. Dulu, kalau kita mau ikut ujian prosentase kehadiran minimal 75%. Kalau enggak lulus atau mau ngulang mata kuliah harus ikut kelas satu semester penuh. Nah, di sini kalau mau ujian yang penting booking jadwal ujian aja. Lho kok booking? Jadi sistem ujian di kampus memang sudah terintegrasi dengan apps dan website kampus. Masing-masing mata kuliah (profesor) umumnya udah set up jadwal ujian mereka dalam satu 3-6 bulan ke depan. Dari situ tinggal dipilih aja mana jadwal ujian yang cocok dan kita merasa siap? Setelah ujian nanti nilai juga akan muncul dari apps tersebut. 

Kalau terlanjur booking apa wajib ikut ujian? Kalau saya, sering tuh booking semua jadwal ujian di kalender pertama (minggu awal ujian), begitu mendekati hari H suka panik sendiri, terus enggak nongol pas ujian haha. Ujung-ujungnya ya saya biasanya kelar ujian di minggu terakhir ujian. Orang-orang udah liburan, saya masih sibuk belajar buat ujian yang enggak kelar-kelar :)

Tampilan apps kalau kita mau booking ujian | Fotografi Dok. Listyan Putri

7. Berapa sewa apartemen di sana (Roma)?
Sebenarnya saat saya apply beasiswa di tahun pertama dan tahun kedua saya juga submit aplikasi untuk apply asrama. Di tahun pertama saya enggak lolos, baru deh di tahun kedua saya lolos tapi sayangnya lokasi asrama jauh dari pusat kota. Butuh 1 jam lebih kira-kira untuk menjangkau kota, belum lagi kalau terpaksa pulang malam dan bus mulai jarang. Ditambah saya ambil kerja part time sejak semester satu, jadi meskipun murah tapi menurut saya kurang worthy yaa. 





Ini dia tampilan interior apartemen di area Piazza Bologna | Fotografi Dok. Listyan Putri

Kalau ini apartemen di area Castro Pretorio | Fotografi Dok. Listyan Putri

Jadi dari tahun pertama hingga saat ini saya lebih suka tinggal di apartemen dan sharing dengan teman. Berapa harga sewa apartemen di sana? Apartemen pertama saya seharga 340 (single room) tapi butuh 1-1,5 jam menuju pusat kota. Lalu saya pindah ke lokasi yang dekat dengan kampus dengan harga 500 €/room per bulan (daerah Piazza Bologna) belum termasuk bill 65 €/anak. Tentunya saya sharing bersama teman dari Indonesia juga, jadi kurang lebih saya keluar 315 € per bulan untuk sharing room. Yang  sekarang, saya pindah ke apartemen yang lebih ke tengah kota lagi, 400 € (daerah Castro Pretorio) dan tetap, sharing is caring yaa :) 

8. Jadi berapa kira-kira total biaya hidup di Roma?
Kalau kita ambil rata-rata sewa apartemen seharga 350-400 €/bulan, pengeluaran lainnya adalah paket telpon dan internet 10-20 €/bulan, langganan public transport 35 € sisanya kebutuhan pangan dan entertainment. Kalau sekali belanja di supermarket 20 € untuk 1 minggu, kira-kira dalam satu bulan kita akan habiskan 80 € per bulan. Dengan catatan kita enggak laper mata, irit dan masak sendiri. Hati-hati makanan di sini enggak ada yang enggak enak! Jadi berapa total hidup sederhana hidup di Roma? Mungkin sekitar 500-600 €. Tapi itu semua balik ke individu, irit, prihatin dan masak sendiri balik lagi itu pilihan. 

Trasporto Pubblico a Roma: Ecco Tutte le Info | Il Blog di Spotahome
Kartu langganan public transport di Roma. Dengan langganan kartu ini kita bebas muter-muter Roma selama 1 bulan.
Fotografi Dok. Listyan Putri

Wang Jiao a Milano: Foto del Menu con Prezzi
Menu di salah satu chinese restaurant langganan, yang mana harga di resto ini bisa dibilang yang paling bersahabat buat kantong mahasiswa dengan bujet pas-pasan kaya saya :) | Fotografi Dok. Listyan Putri

Itu dulu curhatan singkat mahasiswa rantau kali ini. Semoga dengan adanya tulisan ini bisa jadi gambaran buat temen-temen yang sedang mempersiapkan studi di Italia. Sekolah dan hidup di Eropa memang menyenangkan, apalagi kalau diposting di sosial media. Tapi jangan salah, ada banyak jalan berliku dan perjuangan yang kerapkali disimpan ketimbang dibagikan ke khalayak ramai. 

--
Roma, 27 Agustus 2020



You Might Also Like

0 comments

Subscribe