Pesan Mendalam di Balik Sampul Putih Majalah Vogue Italia

May 03, 2020


Vogue Italia Runs Blank Cover for April 2020 Issue | HYPEBAE
Blank Cover Vogue Italia
Fotografi Dok. Hypebae

Senang sekali akhirnya bisa nulis artikel tentang fashion di tahun 2020. Buat saya itu sebuah pencapaian setelah sekian lama blog ini dihuni tulisan kalo enggak traveling ya studi di Italia. Pernah mikir juga ngapain saya harus nulis fashion, emang ada yang mau baca kan saya anaknya enggak fashionable. Kalau bukan karena majalah Vogue mungkin saya enggak akan pernah punya kolom tentang dunia mode.

Pasti sudah banyak yang tahu atau mungkin familiar dengan Majalah Vogue. Majalah yang mengupas tentang fesyen dan gaya hidup ini awalnya terbit di negara Paman Sam sejak tahun 1892. Jadi kalau dihitung hingga tahun ini, umur Majalah Vogue sudah menginjak 127 tahun! Luar biasa ya, lebih tua dari umur Indonesia hehe. Bermarkas di New York, dulunya sebelum menjadi majalah seperti sekarang ini Vogue terbit dengan format surat kabar mingguan. Barulah pada tahun 1916, terbitlah Vogue edisi internasional untuk kawasan Britania Raya, British Vogue dan Vogue edisi Italia di tahun 1964. 
Fotografi Dok. Facebook Master Fashion Studies Sapienza

Kali ini saya mau membahas Vogue Italia dengan sampul majalah 'spesial'nya di edisi bulan lalu, April 2020. Sebelum resmi bernama Vogue Italia seperti sekarang ini, Vogue versi Italiano muncul dengan nama Novità (Novelties) hingga November 1965, lalu berganti menjadi Vogue & Novità hingga akhirnya selang 6 bulan kemudian berganti lagi menjadi Vogue Italia sampai saat ini. 

Masih ingat bagaimana ramenya media massa menceritakan Covid19 di negeri pizza? Saya yang saat itu masih di Roma pun merasa bingung sendiri, kok virusnya 'terbang' jauh banget sampai beda benua dan memakan banyak korban. Dan semua itu berlalu begitu cepat. Akhir Februari saya masih main kesana kemari, ikut ujian, bolak balik ke kampus untuk diskusi bareng teman satu grup tanpa perlu risau apalagi pakai masker. Tiba-tiba satu minggu kemudian semua warga dihimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan. Kampus dan sekolah-sekolah pun mulai diliburkan. Korban yang terinfeksi bertambah secara cepat di setiap jam. Roma tergolong masih aman, saat itu belum ada kasus di wilayah Italia Selatan, berbeda dengan di Milan dan deretan wilayah Italia Utara. Hampir setiap hari selalu ada pengumuman baru dari pemerintah. Mulai dari himbauan hingga berujung larangan. Italia mulai membagi wilayah dengan sistem zonasi. Dari yang awalnya zona merah untuk daerah dan kota-kota di bagian utara Italia hingga akhirnya tidak ada lagi pembagian zona merah karena semua wilayah Italia adalah zona merah.

Telewicara dengan Emanele Farneti dengan Kepala Jurusan Fashion Science Sapienza
Fotografi Dok. Instagram Master Fashion Studies Sapienza

Situasi menjadi semakin serius saat satu per satu korban mulai gugur. Jumlahnya bukan lagi puluhan, tapi ratusan, hingga puncaknya pada tanggal 27 Maret lalu, jumlah korban meninggal mencapai 919 jiwa dalam satu hari! Keadaan seperti ini tentu tidak pernah terbayang dalam benak kita. Biasanya cerita-cerita seperti ini dibagikan saat kita sedang mengulas sebuah film. Tapi kali ini bukan. Scene per scene dalam film itu kini nyata adanya. La Dolce Vita tak lagi berlaku di Italia saat ini.

Minggu lalu saat saya sedang mengakses info kampus dari laman facebook, muncul postingan forum diskusi bareng Vogue Italia. Wah, gila seru banget! Ini yang dari kemarin rame dibahas gara-gara sampul polosnya. Dan benar, web conference kala itu akan membahas banyak cerita dari alasan pembuatan blank cover Vogue Italia edisi April lalu. 

Emanuele Farneti (Direttore Vogue Italia): la moda green "influirà ...
Emanuele Farneti, Editor in Chief Vogue Italia | Fotografi Dok. Fashion Times

Emanuele Farneti, selaku Editor in Chief Vogue Italia lagi-lagi memberikan gebrakan untuk penampilan sampul Majalah Vogue Italia. Sebelumnya, pria 43 tahun ini sempat menjadi perbincangan di awal debut karirnya bersama Vogue Italia dengan menampilkan same-sex kiss pada sampul majalah Vogue Italia. Namun kali ini, dengan dibantu Ferdinando Verderi sebagai Creative Director, Majalah Vogue Italia tampil berbeda tanpa sehelai baju dari merek baju ternama, model papan atas hingga font dengan padu padan warna latar sampul. Idenya dengan menampilkan blank cover menuai banyak review positif. Tidak hanya konsepnya yang brilian, tapi blank cover Vogue Italia rupanya sarat akan pesan.

Sebelum edisi April ini tercetak, Farneti mengaku telah menyiapkan konsep lain dan berencana akan kolaborasi dengan L'Uomo Vogue (Uomo dalam bahasa Italia artinya pria, red). Seperti yang sudah banyak diketahui, Vogue telah berusia lebih dari satu abad dan melewati banyak peristiwa penting dalam sejarah baik itu perang dunia, krisis hingga beragam aksi terorisme. Vogue selalu hadir untuk berbicara dan berdampingan dengan isu-isu terkini.

Salah satu sesi photoshoot dari halaman Majalah Vogue
Fotografi Dok. Gigi Hadid

Di tengah pandemi yang tidak hanya melanda Italia--kendati saat edisi ini dikerjakan, Italia merupakan sentra pandemi dari Covid19-- ia menyadari bahwa sangat tidak pantas membahas hal lain di luar isu yang tengah dihadapi. Bagi Farneti, membicarakan topik lain di saat para tenaga medis yang tengah berjuang dan mempertaruhkan nyawa bukanlah DNA dari Vogue itu sendiri. Keluar dari tradisi, Vogue Italia pun tampil dengan sampul putihnya tanpa ada embel-embel fashion di dalamnya. Fashion editing bukan lagi soal bagaimana kita berbicara tentang mode semata, tapi juga berbicara atas cerminan yang tengah terjadi di masyarakat.


Warna putih seringkali diibaratkan dengan istilah menyerah. Namun, di dalam kacamata Farneti, warna putih yang dipilih sebagai sampul Majalah Vogue Italia melambangkan kesucian dan harapan. Ia juga menambahkan, warna putih sebagai warna yang mengisyaratkan 'rebirth' dan respek terhadap profesi yang mendedikasikan hidupnya untuk menolong banyak nyawa di tengah pandemi ini. Ada satu kutipan yang saya suka,


"white is not surrender, 

the title page of a new story that is about to begin, 

but a blank sheet waiting to be written,"


Sampul depan Vogue Portugal | Fotografi Dok. nytimes.com

Dijelaskan juga dalam edisi ini ada beberapa fashion spread yang diisi oleh lebih dari 40 artis dari berbagai negara dimana teknik pengambilan fotonya dilakukan melalui internet. Saya sendiri masih penasaran hasilnya gimana, karena emang belum megang majalahnya langsung. Terlepas dari itu, saya setuju dengan Farneti, bahwa kita tidak bisa mengesampingkan isu yang saat ini memang tengah dihadapi. Suka tidak suka dengan Covid19, kita harus hadapi dan tidak bisa serta merta menutup mata dan telinga kita. Oh ya, selain Vogue Italia, sampul Vogue Portugal juga enggak kalah keren lho. Kalau kamu lebih suka yang mana?

You Might Also Like

1 comments

Subscribe