Pulang Ke Indonesia di Hari Pertama Italia Lockdown. Memang Bisa?

March 29, 2020

Sudah dua puluh hari saya berada di Indonesia. Dan (sebenarnya) sudah selesai juga masa self-quarantine seperti yang jauh-jauh hari dianjurkan pemerintah Indonesia bagi warganya yang baru tiba dari luar negeri. Ini kali kedua kepulangan saya ke Indonesia selama menempuh masa studi. Bahkan kepulangan kali ini sudah saya rencanakan jauh-jauh hari. Akhir tahun lalu saya sempat mengubah study plan, salah satunya dengan mengambil program magang di Bali. Iya. Seharusnya kepulangan saya kali ini untuk tinggal sementara di Pulau Dewata selama kurang lebih satu bulan. Seharusnya.

Himbauan Pemerintah Italia bagi warganya untuk tetap tinggal di dalam rumah tampak
menghiasi beberapa halaman surat kabar setempat.
 Fotografi Dok. Listyan Putri

Selang beberapa hari setelah saya tiba di tanah air, pemerintah mulai bersiap menghadapi pandemi corona virus. Salah satunya dengan menetapkan social distancing atau yang akhir-akhir ini kita sering dengar dengan istilah physical distancing. Dari himbauan pemerintah tersebut, keluarlah beberapa kebijakan seperti belajar hingga kerja dari rumah selama 14 hari. Program self-quarantine saya bakal overlap dengan himbauan dari pemerintah. Jadi, hingga akhir Maret ini saya ya masih io resto a casa (stay at home). Bosen? Alhamdulillah enggak :)

Akhir Januari lalu, di Roma --kota dimana saya tinggal-- berita tentang sepasang turis dari Tiongkok yang pingsan di stasiun metro ramai menghiasi laman berita online. Isu yang menyatakan mereka suspect corona cepat sekali menyebar. Kami, pelajar-pelajar Indonesia yang tinggal di Roma mulai sedikit khawatir. Salah satu hal yang bisa kami lakukan saat itu adalah tindakan preventif, dengan cara membeli masker. Bahkan beberapa teman memang terbiasa menyetok masker untuk jaga-jaga kalau sakit. Tren memakai masker sehari-hari rasanya hanya menjadi kebiasaan orang Asia, maka wajar kalau kami berpikir 'ah pasti gampang carinya di apotek'. Nyatanya, susah banget lho perkara cari masker di awal berita virus corona sampai Italia.

Beberapa teman saya pun mulai memakai masker saat mereka ke kampus atau sekadar bepergian ke luar. Alih-alih mencegah corona, mereka justru dibully oleh orang-orang yang mereka jumpai. Wajah Asia memang sekilas mirip-mirip. Rupanya itu pula yang menjadi alasan warga setempat menjaga jarak saat melihat orang Asia memakai masker. 

Yang ada di benak mereka mungkin, "Wah dia pakai masker, pasti kena corona nih..."

Berita tentang corona toh pada akhirnya menguap seiring waktu. Hingga pada akhirnya, satu bulan kemudian, mungkin di tanggal 20-an, virus corona benar-benar menyebar di Italia. Tepatnya dimulai di Italia bagian Utara, provinsi Lombardia. Kota-kota sarat wisatawan seperti Milan dan Venezia harus menghadapi kenyataan kalau zona tersebut harus ditutup. Hari demi hari kasus terus bertambah, zona merah semakin luas.  Lalu bagaimana dengan Roma? Saat itu Roma, Florence, Pisa, Napoli dan beberapa daerah di Italia Selatan masih aman. 

Tiket ke-2 menuju kepulangan ke tanah air. Yeay!
Fotografi Dok. Listyan Putri
Saya pun sudah membeli tiket untuk pulang ke Indonesia untuk penerbangan tanggal 2 Maret 2020. Empat hari sebelum jadwal keberangkatan, Saudia Airlines, membatalkan penerbangan. Wah kagetnya bukan main. Maklum baru pertama kali kena pembatalan pesawat, apalagi di tengah wabah. Yang beberapa hari kemudian setelahnya saya baru tahu kalau Arab Saudia juga telah membatalkan jadwal umroh dan menolak semua wisatawan yang akan masuk bahkan transit. Seketat itu. Beberapa teman pelajar mulai panik dan berencana untuk balik ke Indonesia juga, meski sebenarnya mereka tidak ada rencana untuk pulang ke tanah air. Barulah di tanggal 3 Maret akhirnya saya berburu tiket lagi. 

Kali ini saya dapat tiket untuk tanggal 10 Maret dengan maskapai KLM asal Negeri Kincir Angin dengan tujuan transit Amsterdam dan Kuala Lumpur. Jujur saya tidak lagi banyak berharap bisa balik Indonesia. Kalaupun sampai tiket ini dibatalkan, saya memutuskan untuk stay di Italia sampai wabah selesai. Apalagi seiring berjalannya waktu, warga yang dinyatakan positif corona semakin bertambah.

Di hari dimana tiket pertama saya dibatalkan, akhir Februari, warga yang positif corona mencapai angka 1000-an. Sejak saat itu beberapa negara dan maskapai setempat mulai mengeluarkan travel warning ke dan dari Italia. Hal itu juga dialami teman saya yang akan pulang ke Indonesia dan teman sekelas yang akan balik ke Italia dari Turki, keduanya telah mengantongi tiket dari Turkish Airlines. Kurang dari 10 hari, angka positif di Italia menyentuh angka 9,000. Sekolah-sekolah sudah mulai diliburkan terlebih dahulu. Kampus saya mulai mengeluarkan pengumuman resmi untuk belajar di rumah mulai tanggal 5 Maret hingga 11 Maret, walaupun akhirnya diperpanjang hingga April dan rasanya akan berlangsung hingga akhir semester ini. 

Pada akhirnya PM Italia, Giuseppe Conte mengumumkan Milan --yang saat itu sudah zona merah-- lockdown pada tanggal 8 Maret 2020, warga pun mulai berbondong-bondong meninggalkan zona tersebut dan memilih pulang ke kampung halamannya. Milan ibarat Jakarta bagi orang sana. Industri dan lowongan pekerjaan banyak tersedia di wilayah Italia Utara di selatan. Itu sebabnya banyak perantauan yang mencari peruntungan di kota fesyen ini. Apa kabar kepulangan ke Indonesia dengan tiket kedua saya? 

Saat itu, 9 Maret saya tengah berada di Napoli. Semuanya masih berjalan normal, dan optimis tidak ada pembatalan penerbangan. Malamnya, muncul dekrit terbaru bahwa tidak ada lagi zonasi antara wilayah dengan zona merah atau tidak. Melainkan semua wilayah di Italia berada dalam zona merah.  Di tanggal 10 Maret, Italia resmi lockdown. Bersamaan dengan dekrit yang dikeluarkan oleh pemerintah, dirilis pula modulo yang harus dibawa oleh setiap warga bila mereka hendak ke luar rumah kecuali bekerja dan berbelanja.


Modulo yang harus diisi dan dibawa bagi warga yang hendak ke luar rumah.
 Hingga minggu lalu, modulo ini sudah direvisi sebanyak 4 kali!
Fotografi Dok. Listyan Putri

Sampai di situ saya belum punya Plan B. Berkali-kali saya buka inbox email berharap ada pembatalan dari maskapai tapi nihil. Saat itu saya lebih berharap diberi kepastian bisa atau tidak terbang, daripada saya harus menyiapkan berbagai macam skenario misal penerbangan Roma-Amsterdam tidak dibatalkan, tapi flight Amsterdam-Jakarta justru dicancel dan saya terjebak di Amsterdam karena Italia sudah terlebih dahulu lockdown. Entah apa yang ada di pikiran saya saat itu, yang terpenting saya harus bisa pulang ke Roma terlebih dahulu, memastikan diri bisa sampai ke bandara Fiumicino. 

Paginya, di tanggal 10 Maret, saya bertolak ke Roma dengan kereta cepat dengan kota pemberhentian terakhir Milan. Agak bingung sih, kok masih ada kereta ke Milan. Lewat makan siang, dengan berbekal modulo yang telah saya isi di rumah, saya menuju ke Stasiun Termini dan mencari shuttle bus ke arah airport. Salah satu teman di Jakarta membantu saya untuk mengecek status penerbangan. Tapi sebelumnya, saya telah meminta tanda tangan dari polisi setempat untuk modulo yang saya pegang. Jaga-jaga kalau di tengah jalan ditanya polisi karena berkeliaran di jalan dan dijatuhi denda 206 Euro. 

Tenda biru yang ada di dalam Stasiun Termini ini merupakan pos polisi yang akan memvalidasi modulo.
Fotografi Dok. Listyan Putri
Sampai di sini saya masih beruntung, dan berharap tetap beruntung sampai Indonesia. Sesampainya di bandara yang cukup lengang, saya mengamati layar jadwal penerbangan. Beberapa penerbangan mulai dibatalkan, khususnya penerbangan lokal ke Milan dan Venice. Orang-orang di bandara pun cukup aware saat itu. Mulai banyak dijumpai diantara mereka yang memakai masker, begitu pula petugas di bandara. 

Pemeriksaan x-ray dibuat berjarak, sehingga terjadi sedikit antrian diantara para penumpang. Saya lupa ada atau tidak cek suhu badan di bandara Italia, tapi sepertinya ada. Penerbangan ke Amsterdam pun berjalan tanpa kendala, hanya delayed 20 menit.

Suasana di Fiumicino Aeroporto, bandara utama di Kota Roma tampak lengang dari biasanya.
Fotografi Dok. Listyan Putri 
Menyadari keterlambatan kedatangan maskapai KLM, mau tidak mau membuat para awak kabin dihujani banyak pertanyaan dari penumpang, karena banyak diantara mereka yang memiliki connecting flight dengan tenggat waktu yang sangat terbatas. Hingga pada akhirnya flight attendant membacakan kode gate untuk connecting flight yang memiliki waktu terbatas itu, salah satunya tujuan Jakarta. Memang sedari awal flight attendant telah menjelaskan ke beberapa penumpan terkait keterlambatan tersebut. Alasannya karena teknis, dan di hari itu dipastikan semua penerbangan dari Roma mengalami keterlambatan. Dengan sisa waktu yang kurang dari 30 menit itu saya harus segera bergegas menuju tes kesehatan di Bandara Schiphol Amsterdam, imigrasi hingga gate. Saya yang saat itu memakai masker benar-benar merasa cukup pengap. Bisa kebayang bagaimana rasanya menjadi petugas medis yang harus menggunakan masker seharian penuh.

Beberapa orang di bandara Fiumicino terlihat memakai masker. Pemandangan seperti ini sangat jarang dijumpai sejak wabah Corona merebak di China. | Fotografi Dok. Listyan Putri 

Penerbangan berikutnya berjalan sesuai jadwal. Untung dengan jeda waktu yang tersisa saya dapat sampai di kabin 15 menit sebelum pesawat lepas landas. Sepuluh jam kemudian, pesawat tiba di Kuala Lumpur untuk menurunkan dan menaikkan beberapa penumpang dari sana. Di sini tidak ada pemeriksaan kesehatan, karena memang flow nya para penumpang keluar pesawat dan diarahkan gate sambil menunggu pesawat selesai dibersihkan. Hanya saja, di sana para penumpang diwajibkan mengisi Health Card dan diserahkan setibanya di Jakarta.

Health card yang dibagikan kepada penumpang pesawat saat transit di Kuala Lumpur.
Fotografi Dok. Listyan Putri
Setelah hampir dua jam perjalanan Kuala Lumpur--Jakarta, sampai juga saya di Indonesia. Selesai juga drama panjang mudik kali ini. Tidak seperti biasa, setibanya di Indonesia dan melewati imigrasi pasti petugas mengajukan sedikit pertanyaan, karena sebelumnya setiap saya pulang dari traveling kalau mau masuk Indonesia jarang ditanya-tanya.

"Dari negara mana nih, Mba?" tanya petugas imigrasi. 
Saya sudah bisa menduga kalau jawaban saya akan membuat petugas sedikit mencurigai saya.

"Dari Italia, Mas" jawab saya dengan pasang muka polos.
Dan betul saja, si petugas kaget dan buru-buru menanyakan form Health Card dengan ekspresi curiga.

"Waduh dari Italia. Dari Milan ? Sehat engga nih, Mba?" tanya petugas lagi sambil membolak balik health card saya memastikan apakah saya memiliki gejala-gejala covid-19.

Saya menjawab singkat pertanyaan tersebut sambil tertawa. Kalau ditanya sehat ya InsyaAllah saya sehat, cuma kan saya enggak jamin selama di pesawat saya bertemu orang yang sehat juga ya. Tapi akhirnya saya pun melewati gerbang imigrasi dan dicek suhu serta screening tubuh. Meski saat itu bisa dikatakan pemerintah sudah mencoba mengantisipasi, tapi bagi saya pemeriksaan kesehatan tersebut masih kurang ketat. Dan seharusnya, saya yang berstatus ODP (Orang Dalam Pengawasan) karena berasal dari daerah pandemik mendapat perhatian khusus dari petugas bandara dan pemerintah setempat dimana saya berdomisili. Tapi toh, saya melewati 14 hari self-quarantine di rumah orang tua, tanpa ada satu pun petugas dari Dinas Kesehatan atau Puskesmas yang mengunjungi saya. Padahal saya berikan alamat lengkap dan nomer whatsapp. Ya, mungkin memang saya yang harus melapor ke rumah sakit rujukan atau puskesmas mengenai status saya. Tapi, kalau kedatangan saya ke rumah sakit justru membuat saya harus banyak bertemu dengan banyak orang, apalagi warga lanjut usia, wah saya lebih baik di rumah saja kalo gitu.

Salah satu insta story MUA asal Indonesia yang bermukim di Jerman. Dari sana saya tahu kalau negara-negara di Eropa bersiap untuk lockdown. | Fotografi Dok. C. Dea
Setelah keberhasilan atas kepulangan saya ke tanah air di tanggal 11 Maret, beberapa teman yang hendak pulang ke Indonesia pun merasa 'masih ada jalan' untuk bisa pulang. Memang saat itu saya ibarat 'kelinci percobaan' bagi anak-anak Indonesia di sana, karena pulang di hari pertama lockdown (lucky me, hari pertama masih masa transisi). Tiga orang lagi memiliki jadwal kepulangan yang berbeda, tanggal 11 dan 16 Maret. Di tanggal 11 Maret, melalui instagram story dari salah seorang teman yang berangkat tepat satu hari setelah saya keluar dari Italia, 90% jadwal penerbangan yang ada di layar informasi telah dibatalkan. Beruntungnya, penerbangan teman saya ini masuk ke dalam daftar jadwal normal yang siap diberangkatkan.

Lain cerita dengan teman saya yang berencana pulang ke Indonesia di tanggal 16 Maret. Mereka terpaksa harus gigit jari lantaran penerbangannya telah dibatalkan beberapa hari sebelum jadwal semula. Satu diantara teman yang berencana pulang tanggal 16 Maret pun mencoba membeli tiket dengan maskapai lain untuk penerbangan tanggal 15 Maret via Munchen, satunya lagi masih belum bisa memastikan kapan ia akan beli tiket. Pasalnya tiket tanggal 16 Maret adalah tiket keduanya yang telah dibatalkan dari maskapai. Keluar dari Italia di masa-masa lockdown memang seperti judi, kita enggak tahu kapan dewi fortuna berpihak pada kita. Bisa sampai di tanah air rasanya seneng banget. Lalu apa kabar magang saya di Bali? Well, saya enggak mau muluk bisa magang, tapi semoga bisa tetap magang setelah semuanya kondusif. Adakah diantara teman-temang yang agendanya ikutan berantakan gara-gara Covid-19? Share di kolom komentar ya :)

_
xoxo
Putri



p.s. Jangan lupa cuci tangan dan berjemur yaa teman-teman :)



You Might Also Like

0 comments

Subscribe