Liburan (atau Kuliah) di Italia?

August 10, 2019

Per tulisan ini dibuat, artinya sudah hampir 11 bulan saya hidup merantau di negara orang. Seringkali saya mendapat pertanyaan, "Homesick engga, Put?" atau "Gimana awal-awal tinggal di sana, culture shock engga?". Tapi engga sedikit juga yang lalu menyimpulkan, "Enak banget sih tinggal di Italia", saking kelihatan enaknya hidup saya di sana, ada juga yang mengira kalau saya ini semacam turis yang liburan di Eropa tapi enggak pulang-pulang :(

Jalan-jalan di seberang Foro Romano yang lokasinya tidak jauh dari Colloseo
Fotografi Dok. Pribadi

Hingga detik ini saya masih memegang visa pelajar, yang artinya status saya masih mahasiswa aktif di salah satu perguruan tinggi negeri di Roma. Kalau inget awal-awal pindah ke Roma, duh cobaan tuh rasanya silih berganti. Bagi yang pernah baca tulisan saya sebelumnya tentang drama visa pelajar, sesampainya di Roma, saya pun dihadapkan pada babak drama yang baru. Jadi mahasiswa ilegal! Lho, kok bisa?

Saat saya mendapat LoA (Letter of Acceptance) bulan Mei saya diterima sebagai mahasiswa Jurusan Desain Produk. Selanjutnya saya harus melengkapi beberapa tahapan administrasi lainnya, termasuk membayar participation fee yang tujuannya agar kursi saya di jurusan tersebut aman. Realitanya, saya hanya melengkapi bagian form dan mengesampingkan masalah pembayaran. Kebetulan di minggu-minggu itu saya memang tengah disibukkan dengan salah satu acara seni di Jakarta. Jadi saya pikir "Ah, ntar kan bisa bayar di sana".

Salah satu musim favorit : Musim semi | Fotografi Dok. Pribadi
Bekal piknik musim semi di Kota Lucca | Fotografi Dok. Pribadi
Dari jadwal semula yang seharusnya saya tiba di Roma pada awal bulan Oktober, nyatanya saya baru sampai Roma di minggu terakhir Oktober. Kalo enggak salah 28 Oktober. Di hari berikutnya saya harus mengurus legalitas untuk izin tinggal mulai dari pembuatan kode fiskal (fiscal code) hingga izin tinggal (residence permit). Sadar saya baru datang dan tentu saja ketinggalan banyak materi, saya pun berniat akan masuk kuliah keesokan harinya. Apesnya, Roma dihajar badai seharian penuh dimana semua aktivitas di luar baik itu perkantoran dan perkuliahan diliburkan. Saya rasa di hari itu enggak ada orang ke luar rumah.

Piknik musim semi di Villa Borghese | Fotografi Dok. Pribadi

Akhirnya saya baru masuk kuliah di awal November. Dengan pedenya saya memasuki kelas macam mahasiswa kemarin sore. Duduk manis di kelas Design Issues, kenalan sama mahasiswa yang duduk di sebelah, hingga ikutan diskusi serta presentasi kecil bareng temen dari Turkey dan Israel. Selesai kelas, langsung donk 'nyegat' anak Israel dan nanya ada tugas apa aja dari kemarin. Hari berikutnya saya sudah punya beberapa teman akrab, baik itu dari Korea Selatan, Kazakhstan dan Italia. Lewat mereka-mereka ini saya dapat banyak informasi tentang materi, tugas yang segabrek dan jadwal mid-test. Bisa dibayangkan, belum ikutan kuliah tapi langsung disodori kertas mid-test. Untung duduknya dempetan sama mahasiswa lain :p

Berburu sinar matahari, biar enggak kedinginan sih ini | Fotografi Dok. Pribadi

Di tengah padatnya saya mengejar materi dan tugas yang tertinggal, saya harus bisa membagi waktu untuk mengurus legalitas saya di Jurusan Produk Desain. Mulai dari ke bagian sekretariat, email dekan--yang kemudian engga pernah dibales, nungguin dekan hingga terkatung-katung di kampus sedari sore. Intinya, mereka tidak bisa menjanjikan saya mendapat kursi di tahun pertama ini, tapi mereka menjamin saya akan diterima di tahun kedua kuliah asalkan saya tetap mengikuti sistem perkuliahan di tahun pertama sebagai mahasiwa 'short course'. Apa untungnya bagi saya? Di tahun kedua saya akan menjadi mahasiswa master aktif seperti teman-teman seangkatan saya, jadi saya tinggal meneruskan sisa 1 tahun kuliah, dan lulus, walaupun saya hanya tercatat sebagai mahasiswa aktif satu tahun saja. Kalau saya ikut kuliah di tahun pertama dan mendapat kredit (kalau di Indonesia namanya SKS), kredit saya akan diakumulasikan di tahun berikutnya. Artinya, kuliah saya di tahun pertaman tidak akan sia-sia. Lalu apa ruginya? Saya harus merubah visa saya, dari visa pelajar (master student) menjadi visa pelajar studi pendek (untuk masa studi 6 bulan), merogoh kocek untuk membiayai short course selama satu tahun dan parahnya, saya akan kehilangan beasiswa!

Karena masalah ini saya pun harus berurusan dengan bagian administrasi beasiswa, bolak balik ke kantor dan menanyakan kemungkinan terburuknya. Jadi, kalau di tahun itu (2018) saya tidak menjadi mahasiswa Master, ada 2 skenario terburuk yang akan saya hadapi, balik Indonesia atau bertahan di Roma sambil mengucapkan selamat tinggal beasiswa, dan selamat datang hidup sebatang kara di Roma :')


Udah bisa liburan ke Barcelona, lupa kalau pernah punya drama xD | Fotografi Dok. Pribadi

Ada salah satu teman lama saya, anak Roma asli yang saya kenal saat saya liburan ke Vietnam tahun lalu. Beruntungnya, di bulan Oktober dia sudah balik ke Roma. Namanya Manu. Entah sudah berapa kali saya merepotkan Manu dan tentu saja menjadikan dia sebagai 'tempat sampah' atas semua kegalauan dan drama yang menimpa saya. Karena kebetulan dia alumni dari kampus yang sama, dengan begitu baiknya Manu mengunduh format surat tembusan untuk rektor kampus. Dan di surat itu saya harus menulis dengan Bahasa Italia tanpa kesalahan. Iya saya yang nulis, Manu yang buat tentu saja. Saat saya ajukan surat itu ke bagian sekretariat lengkap dengan materai, jawabannya adalah :

"Listyan, surat ini sudah tidak bisa digunakan lagi. Mungkin bisa untuk jurusan lain, tapi di Jurusan 

Produk Desain, justru rektorlah yang sudah memutuskan untuk 

menutup jurusan tersebut lebih awal," terang petugas bagian sekretariat.

Foto bareng sebagian teman sekelas setelah kelas workshop | Fotografi Dok. Pribadi
Lemas saya seketika. Benar-benar pasrah. Yang saya pikirkan saat itu cuma satu. Pulang. Entah pulang ke apartemen atau bahkan pulang ke Indonesia. Pokoknya pulang. Dalam langkah gontai itu, saya pun memutuskan untuk duduk sejenak di tangga lobi ruang sekretariat. Saya chat Manu, dan saya bilang 'Udahlah percuma'. Manu hanya membaca chat saya. Tidak membalas satu kata pun. Dan selang 10 menit kemudian, Manu mengirimi saya link berupa modul yang berisi pasal-pasal tentang hak mahasiswa baru yang bisa mendapatkan perlakuan khusus (legalitas) lantaran kasus tertentu. Caranya adalah dengan melampirkan surat sakti untuk rektor tersebut. Saya sudah malas untuk berargumen dan meyakinkan diri saya untuk tetap optimis. Setelah hujan reda, saya pulang ke apartemen dan mulai untuk melupakan sejenak permasalahan rumit ini.

Atas usul Mas Sony dan Silmi, salah satu teman yang juga pelajar Indonesia di tahun yang sama, mereka menyarankan saya agar saya ke KBRI untuk menceritakan duduk permasalahan. Satu minggu berselang cara itu juga tidak mempan. Dan entah ada angin apa, tiba-tiba saya ingin sekali pergi ke bagian sekretariat lagi, dengan mengajukan beberapa pertanyaan bodoh :

"Ada jurusan apa aja yang masih buka?" tanya saya.

"Ada jurusan bla bla bla dan Fashion Science," timpal petugas.
"Saya boleh pindah ke jurusan Fashion Science?" tanya saya dengan mimik muka yang pasrah.


Jalan-jalan malam ke Fontana di Trevi bareng pelajar Indonesia yang sekolah di Inggris  | Fotografi Dok. Pribadi

Saya yakin si petugas juga merasa iba kepada saya saat itu. Jadi si petugas ini kita juluki 'Lady Killer', karena emang horor banget dan galak sama mahasiswa. Tapi waktu saya tanya itu dia tidak berkomentar sepatah katapun dan meneruskan pandangannya ke layar komputer. Tangannya seperti sedang mengoperasikan mesin printer dan mengambil secarik kertas yang baru saja keluar dari mesin itu.

"Oke, jadi untuk Jurusan Fashion Science, karena kamu dapat beasiswa kamu cukup membayar 

sekian Euro. Di luar gedung ini ada Bank Unicredit, kamu cukup membayar goverment tax, 

kesini lagi dan ini syarat untuk dokumen yang harus kamu lengkapi sebelum deadline. 

Oh iya lupa, syarat yang ada di kertas ini dalam bahasa Italia, 

kamu artikan sendiri ya," terang Lady Killer itu. 

Saya hampir tidak percaya kalau penjelasan detail itu keluar dari seorang petugas yang selama ini kita --bukan saya aja, tapi mahasiswa baru dari berbagai negara-- hindari. Tanpa pikir panjang, saya langsung meluncur ke bank, menyelesaikan pembayaran dan kembali ke Sekretariat. Iya kembali ke lokernya si Lady Killer. Apa jawabnya?


"Jangan lupa scan semua dokumen kamu dan kirim ke email ini segera. 

Kalau sudah terverifikasi kamu bisa langsung 

masuk kuliah di Fashion Science," ujarnya.

Usai jam piknik sambil kerjain tugas di taman | Fotografi Dok. Pribadi

Wah, dengan kabar bahagia ini saya rasanya pengen cium tangan si Lady Killer. Senangnya bukan main. Senang akhirnya saya beneran jadi mahasiswa legal, dan bisa tetap kuliah dengan beasiswa. Kini saya masih menikmati liburan musim panas hingga awal Oktober. Status mahasiwa? Masih aktif donk. Kalau lancar, saya butuh waktu satu tahun lagi untuk menyelesaikan pendidikan Master saya di sini. Doakan yaa semoga kuliah lancar dan bisa lulus pertengahan tahun 2020.




__
Roma, 11 Agustus 2019

You Might Also Like

5 comments

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Ceritanya sangat menarik, mau tanya dong put, kamu dapet beasiswa darimana? Kalo bole saya mau minta email or IG km slnya mau tanya ttg beasiswa. Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo salam kenal!
      Aku dapet beasiswa dari pemerintah Italia, namanya Laziodisu. Bisa dicek di web laziodisco.it :)

      Boleh, kontak aja lewat ig @listyanputri

      Delete
  3. Hi Mba Listyan,

    I came across your website and found it really interesting and helpful. I am representing Anak Rantau, a community-based media focusing on studying, living and working abroad, I am really interested in collaborating on contents with you. If you don’t mind please reply to this e-mail (hello@anakrantau.id) so I can further introduce to you about Anak Rantau and how we can collaborate to share your story to Indonesian youth.

    Many thanks in advance

    Best regards,
    Benny Wijaya
    www.anakrantau.id

    ReplyDelete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

Subscribe