11 Langkah-langkah Persiapan Sekolah di Italia

January 18, 2019

Beberapa bulan lalu, sebelum saya sampai di Italia, ada satu janji saya pada beberapa teman untuk membuat tulisan ini. Dan akhirnya, setelah hampir 4 bulan malang melintang di Roma, sampai juga catatan kecil ini terpasang di blog. Untung enggak sampai tahun ajaran berikutnya ya. Tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman pribadi, yang pada saat itu saya pun (juga pernah) merasakan yang namanya enggak percaya diri, putus asa dan hampir menyerah buat lanjut sekolah lagi. Sekolah di luar negeri memang impian saya dari kecil. Ini jadi salah satu cita-cita yang belum kesampaian dan cukup bikin penasaran hingga tahun lalu.

Fotografi | Castel Sant'Angelo yang letaknya tidak jauh dari Vatikan

Fotografi | Suasana setelah selesai Misa Natal Vatikan Desember 2018 

Saya enggak begitu terlalu ingat pastinya tentang tahapan-tahapan persiapan sekolah yang saya jalani sebelum akhirnya saya resmi menjadi pelajar di The Eternal City ini. Tapi saya akan membaginya dalam beberapa bagian, seperti bagaimana suka duka hidup di luar negeri (Italia) yang jauh dari keluarga, jatuh bangun menjadi pelajar internasional, drama sebelum dan sesudah sampai sini dan masih banyak lagi. Mumpung masih Januari, masih anget resolusi tahun barunya, saya mau berbagi sedikit pengalaman ini tentang apa saja langkah-langkah sebelum memulai sekolah di Italia versi On The Spot  Listyan Putri :

1. Niat
Ini sih wajib hukumnya. Ibarat sholat, kalau lupa baca niat juga ga afdol sholatnya (eh iya enggak sih?). Ngomong-ngomong soal niat, saya tuh niat sekolah di luar negeri udah dari kapan tau. Kapan terealisasinya? Baru tahun lalu kan ya. Yang namanya niat, kelihatannya sepele, tapi bener deh, itu harus dari lubuk hati yang terdalam. Niatnya apa sekolah ke luar negeri? Ngapain repot-repot sekolah di luar negeri, jauh dari keluarga, dingin, Indomie mahal, beras mahal, enggak bisa cari sate kambing, pisah dari temen yang biasa haha hihi bareng, dan segudang alasan lain.
Bits and Bobs by Eva, Blog, Austrian Blog, Österreichische Blog, lovedailydose, your daily treat, fashion, beauty, food, interior, fitness, new, bitsandbobsbyeva.com, travel, spring, Frühling, Juni, Blogger Österreich, österreichsiche Blogger, Foodblog, quotes, meine Lerntipps, Lernen, Motivation, Planung, Konzentration
Ilustrasi | www.bitsandbobsbyeva.com
Beberapa tahun yang lalu, niat saya sekolah di luar negeri agak receh, biar dapet gelar dan ngerasain pakai toga lagi. Asli sereceh itu dulu. Dapet titel MA/M.Sc, ijazah cap kampus luar negeri, bisa jalan-jalan di Eropa yaa bonuslah. Oke, alasan itu emang enggak selamanya salah, meskipun pada akhirnya itu cukup jadi pemacu saya. Baru ketika usia menginjak 27, saya mulai membetulkan niat. Mulai set up plan lagi dan hitung-hitung kasar di usia berapa saya akan menjadi tenaga pengajar dan mengabdi. Estimasi saya pada saat itu, dari umur 27, saya butuh 2 tahun untuk persiapan. Jadi kira-kira di umur 29 tahun atau maksimal 30 tahun target sekolah lagi. Eh Alhamdulillah pas sama rencana yang sebelumnya dibuat. Mungkin dulu belum kesampaian sekolah gara-gara masih banyak intermezo dan kurang tulus niatnya, jadi Tuhan juga ragu-ragu kali ya mau kabulin.

2. Tentukan Negara
Nah kalau udah punya niat yang kuat dan jelas, langkah berikutnya adalah menentukan negara. Balik lagi ke jaman beberapa tahun lalu, jaman masih kepengen sekolah di Amerika --kepengen doang, usaha kaga-- tapi malah kecantol di Eropa, itu juga karena niatnya masih setengah mateng. Ada isu dikit di Amerika udah keburu parno, belajar GRE aja ogah-ogahan, belajar soal matematika SMA ketiduran, jadi apa boleh buat, kemudi pun harus diputar mengarah ke benua lain.

Printable for Europe flags $1
Ilustrasi | www.pinayhomeschooler.blogspot.com

Dalam menentukan negara sedikit banyak hal itu akan dipengaruhi dengan jurusan yang akan kita ambil. Dulu waktu masih kepengin sekolah di Negeri Paman Sam, saya niatnya mau ambil Urban Planning atau Design Studies. Biar apa? Biar keren dan keliatan serius haha. Enggak sih, karena dulu waktu S 1 ambil arsitektur kok kayaknya sayang aja enggak diterusin. Walaupun, sebenarnya saya lebih ke interest ke bidang-bidang interior, produk ataupun fashion seperti bidang pekerjaan yang belakangan ini saya tekuni. Jadi, saat pada akhirnya saya memilih Benua Eropa, saya juga enggak kecewa, karena yang perlu disyukuri adalah "akhirnya bisa fokus juga milih jurusan". Yang perlu disyukuri lagi adalah, banyak pilihan negara buat jalan-jalan (ampuni akuuuuu....).

3. Riset Sekolah dan Beasiswa
Wah sekolah di luar negeri, sekolah di kampus apa? Ada jurusan apa aja di kampus itu? Sekolah pake biaya sendiri atau beasiswa? Kok bisa dapet beasiswa, gimana caranya? Pasti pinter ya! Hmm, saya sejujurnya seneng kalo banyak yang tanya soal sekolah maupun beasiswa. Sebisa mungkin pasti saya akan bantu jawab. Tapi, saya cuma pengin sedikit mengubah persepsi orang-orang kalau sekolah di luar negeri bukan berarti harus berotak encer dan selalu masuk 3 besar dari jaman SD atau punya 'pohon uang' di rumah. Big No No!

Setelah menentukan negara mana yang akan dituju untuk 2 tahun ke depannya nanti, langkah berikutnya adalah mencari sekolah. Tahu dari mana? Bisa cari di internet, rekomendasi teman atau dosen, atau kalau memang belum ada gambaran kamu bisa coba cara yang pernah saya pakai dengan mencari nama-nama kampus di daftar kampus LPDP 2017. Dari daftar ini, saya cari kampus-kampus mana yang mau saya daftar. Hingga akhirnya saya mantapkan untuk daftar Sapienza University of Rome, kampus saya sekarang ini. Oh iya, yang saya tahu mulai LPDP 2018 daftar kampus mulai dibatasi, jadi kalau kamu memang berniat daftar beasiswa LPDP pastikan jurusan di kampus yang akan dituju masuk ke dalam daftar kampus LPDP ya.

16 Places to Look For Scholarships and Grants | JLV College Counseling

Ada banyak lembaga dan institusi sebenarnya yang menawarkan beasiswa. Biasanya masing-masing kampus menyediakan beasiswa bagi para calon mahasiswa. Masing-masing negara juga punya beasiswa unggulan untuk pelajar internasional. Misalnya Prancis dengan Beasiswa Eiffel, Monbukagakusho dari Pemerintah Jepang serta MAECI dan IYT (Invest Your Talent) dari Pemerintah Italia. Kalau saya kebetulan dapat beasiswa dari Pemerintah Regional Lazio namanya Laziodisco, karena beasiswa Italia yang lain mentok di persyaratan umur hehe.

Cari tahu sebanyak-banyaknya tentang sekolah dan peluang beasiswa yang ada mulai dari persyaratan, deadlines, dan plus minusnya. Ada kalanya dalam riset kita akan membutuhkan seseorang dengan pengalaman serupa untuk bertanya sekedar memberi pendapat, tapi ingat jangan pernah bertanya tanpa riset terlebih dahulu. Semua website beasiswa umumnya sudah menuliskan persyaratan secara jelas, jadi jangan sampai kita kehilangan info penting karena kurang riset. Karena beasiswa sejatinya bukan untuk orang-orang yang pandai, tapi untuk mereka yang tidak pernah bosan dan niat untuk mencari tahu.

4. Buat Rencana Sekolah
Rencana sekolah yang saya buat saat itu ada 2 macam, Pre-School yang isinya menjelaskan Plan A, B, C hingga D yang isinya nama kampus dan jurusan yang mau saya daftar. Setelah itu saya juga membuat Pre-Admissions yang isinya informasi dari daftar sekolah lengkap dengan biaya pendaftaran (umumnya sekitar 50-100 $, namun beberapa institusi juga banyak yang menggratiskan biaya ini), biaya les bahasa inggris, biaya les GRE, biaya tes GRE, biaya tes TOEFL, biaya tes IELTS (placement test) dan beberapa pos pengeluaran misal bolak balik Jakarta-Jogja buat ketemu dosen, beli buku TOEFL, dan sebagainya.

Roth IRA vs. 529 Plan: Which Is Best for College Savings? - The Simple Dollar
Ilustrasi | www.thesimpledollar.com

Sekolah di luar negeri dengan beasiswa bukan berarti kita nol modal ya. Banyaknya dana yang harus disiapkan sangat relatif, tergantung planning kita gimana. Misalnya, saya nekat ambil tes TOEFL PBT yang jauh lebih murah dibanding tes Bahasa Inggris yang lain. Resikonya, hanya beberapa kampus yang masih terima sertifikat tersebut dan kebanyakan kampus-kampus di negara yang tidak memakai Bahasa Inggris sebagai bahasa utama. Saya juga mencari sekolah yang tidak memungut biaya pendaftaran apalagi yang mewajibkan kita mengirim dokumen ke kampus di negara tersebut.

Nanti kalau temen-temen udah dapat LoA (Letter of Acceptance), nah pos pengeluaran berikutnya adalah mengurus surat-surat legalisir ke kantor Kemenristekdikti, Kemenhukam dan Kemenlu, translate dokumen yang dibutuhkan ke bahasa negara yang akan kita tuju, beli asuransi, urus visa pelajar, biaya pre-enrollment, tiket pesawat, plus biaya hidup selama beasiswa belum turun. Nah, sekolah umumnya akan mulai masuk tahun ajaran baru antara September atau Oktober. Dan beasiswa rata-rata turun di bulan Desember-Januari. So, welcome to the jungle! 

5. Tes Bahasa
Tahapan ini bisa dibilang saya salah strategi. Ini adalah tahapan yang suka bikin kendor niat kalau mau sekolah di luar. Pertanyaan umumnya adalah : Berapa sih syarat minimum skor TOEFL/IELTS untuk sekolah di luar negeri? Umumnya untuk program Master Degree syarat minimum TOEFL (PBT) adalah 550 equivalent B2, TOEFL IBT 90 dan IELTS 6.5.

Lalu apa bedanya TOEFL dan IELTS? Nah untuk pertanyaan ini sudah banyak dibahas di mesin pencarian secara jelas dan detail. Tapi kalau saya kemarin masih 'berani' daftar dengan sertifikat TOEFL PBT (yang harganya jauh lebih murah ketimbang TOEFL IBT maupun IELTS). Masing-masing sertifikat setau saya punya masa kadaluarsa 2 tahun. Kalau mau yang aman, pilih tes IELTS yang bisa dipakai secara internasional, sedangkan sertifikat TOEFL PBT meski harga lebih bersahabat, tapi ya enggak banyak sekolah yang masih mau terima.

Use of-english-b2-for-all-exames

Biar enggak ngulang dua kali kaya saya, sebaiknya persiapkan jauh-jauh hari untuk tes bahasa ini. Hindari mengambil tes bahasa kurang dari 1 bulan atau 2 minggu sebelum deadline. Mengerjakan soal-soal bahasa Inggris secara marathon dan di bawah tekanan itu cukup bikin stres. Kalau kamu bisa mengantongi sertifikat bahasa ini minimal 6 bulan sebelum deadline pendaftaran, langkah ke depan pun akan terasa lebih ringan. Karena skor TOEFL saya masih belum cukup memuaskan, saya pun mulai mencari tahu poin apalagi yang bisa jadi bahan pertimbangan profesor untuk menerima mahasiswa. Konon katanya sih motivation letter.

6. Motivation Letter
Banyak yang bilang ini adalah bagian yang punya bobot besar untuk menentukann diterima atau tidaknya kita di universitas tersebut. Saya butuh sekitar 1 bulan untuk membuat karangan surat motivasi ini. Awalnya saya buat sendiri karangan yang menceritakan saya, bagaimana latar belakang kehidupan, dan bagaimana lingkungan (tempat tinggal atau tempat lahir) mempengaruhi kehidupan saya saat ini. Setelah itu saya ceritakan juga rencana belajar saya ke depan, setelah lulus mau ngapain, dan kenapa saya pantas masuk menjadi mahasiswa di kampus tersebut. Ceritakan juga prestasi dan sekecil apapun hal dalam lingkungan kampus atau kerja yang pernah kamu buat. Di sini kita kudu narsis dan berani menunjukkan kapasitas kita.

Sean McCabe -  Motivation  #Type  #Designer, #Letterer  #Illustrator
Ilustrasi | www.seanwes.com

Dari karangan saya itu, saya dibantu screening oleh guru les Bahasa Inggris di rumah awalnya. Setelah revisi, dibaca lagi, dirombak, dari yang awalnya ngerasa lebay liat karangan sendiri (ini beneran lho, ngerasa gimana gitu baca tulisan yang sedikit narsis) hingga mulai merasa yakin. Biar afdol, saya pun minta tolong ke salah satu teman saya yang sudah lebih dulu sekolah di Amerika untuk mengoreksi. Karena ini bagian penting, jangan pernah membuat motivation letter ini dengan sistem kebut semalam ya!

7. CV & Portofolio
Tahapan berikutnya adalah membuat CV dan portofolio. Saya sudah berkali-kali mendesain CV dan portofolio, khususnya waktu mau pindah kantor. Tapi untuk persiapan sekolah, tentu saya membuat yang sesuai standar (sekali lagi ini menurut saya lho ya hehe). Dulu saya terbiasa membuat CV dengan warna dan desain yang eye catching, setelah saya iseng-iseng riset, saya pun mendesain ulang CV dan portofolio dengan desain dan font pilihan yang jauh lebih sederhana.
3pagina Resume / CV Template Cover Letter di TheResumeBoutique
Ilustrasi | Kurang lebih seperti ini format CV yang saya pakai kemarin
www.etsy.com
Il CV del Grafico, 20 esempi a cui ispirarsi. – Robadagrafici.net
Ilustrasi | www.robadagrafici.net
Zero Presentation PowerPoint Template #ppt #work #project #concept #exhibit #display #portfolio #simplep #simple #minimal #lookbook #fashion #black #white #template #line #design #photobook #photography
Ilustrasi | Contoh portfolio minimalis. Untuk cari inspirasi saya biasanya main ke Pinterest
www.creativemarket.com

8. Surat Rekomendasi
Ada banyak cara untuk mendapatkan surat rekomendasi. Bisa dari dosen, profesor, atasan atau tokoh masyarakat yang mengerti dan pernah bekerja sama dengan kita. Susah enggak mintanya? Tergantung. Umumnya dosen atau atasan pasti akan senang mendengar kita punya rencana untuk sekolah lagi. Mereka tentu dengan senang hati akan membantu kita. Kemarin saya meminta surat rekomendasi dari dosen pembimbing dan atasan yang bisa dibilang sudah 'you know me so well'. Dan dosen pembimbing saya kala itu malah mengantar dan menemani saya ke bagian Dekanat untuk dibuatkan surat rekomendasi dari Wakil Dekan langsung di tempat! Saya bener-bener terharu saat itu melihat banyaknya pihak yang sudah rela membantu saya :)

Tips for Writing a College Recommendation Letter
Ilustrasi | www.weareteachers.com

9. Restu Orang Tua
Di awal tahun 2016 waktu saya ke pameran buku Big Wild Wolves, secara enggak sengaja saya nemu buku berjudul Beasiswa di Bawah Telapak Kaki Ibu. Karena saat itu saya calon pemburu beasiswa, tentu sebuah kesalahan kalau sampai membiarkan buku itu tidak berpindah tangan ke saya. Di buku itu diceritakan bahwa si penulis, Irfan Amalee yang bercita-cita sekolah di Amerika masih belum berjodoh dengan beasiswa. Berbagai jenis beasiswa sudah banyak dicoba namun masih belum membuahkan hasil. Singkat cerita ia pun meminta restu ibu. Dan akhirnya si penulis pun sukses kuliah di Amerika dengan beasiswa!
Ilustrasi | Buku ini ditulis Irfan Amalee yang diterbitkan oleh Mixaia Bandung


Saya jarang sekali memulai percakapan formal baik ke Bapak maupun Ibu. Tapi saya wajib meniru cerita di atas. Bagaimanapun caranya saya harus bisa mendapatkan restu Bapak dan Ibu tanpa bercanda. Serius ini cukup susah lho, memang orang tua sejatinya tidak mempermasalahkan saya untuk bersekolah lagi dan setiap saya minta didoain, beliapun menjawab,


"Iya, iya pasti didoain donk" atau "Lho ya mesti didoain, tho"


Restu dari suami sudah dari awal saya kantongi dan ia juga tidak keberatan. Hingga pada akhirnya saat saya pulang ke rumah orang tua, sesi curhat (mendadak) ibu dan anak pun tidak sengaja dimulai. Di momen itu saya cuma bilang,

"Doain ya bu biar lancar keterima sekolah sama beasiswanya. 
Jadi biar tahun ini (2018) bisa berangkat". 

Percaya atau enggak, saya cukup beruntung di sini, saya diterima sebagai mahasiswa untuk Program Master Desain Produk di La Sapienza dan juga Beasiswa Laziodisu sekali tembak! Modalnya apa? Doa Ibu dan nekat. Super nekat, karena saya cuma daftar di satu universitas dan satu beasiswa ini saja. Kalau ini enggak lolos, tentu saya akan mundur satu tahun lagi dan mengulangi proses yang sama.

10. Berdoa dan Pasrah
Tidak banyak yang tahu kalau saya benar-benar berniat untuk sekolah lagi. Beberapa teman dekat sebenarnya tahu rencana saya mau sekolah di luar negeri. Tapi saat itu saya memilih untuk tidak banyak bercerita ke banyak orang. Sedikit main rahasia-rahasiaan sih, tapi kalau enggak gitu saya enggak bisa fokus. Walaupun dalam hati pengen banget banyak cerita ini itu, tapi kok kayaknya pamali.

Di sosial media iyasih update terus, jalan ke sana kemari, ikut ini itu, kerjain ini itu, tapi begitu waktunya pulang ke rumah, saya sibuk di depan laptop, entah itu berburu syarat untuk beasiswa, belajar Bahasa Inggris atau Bahasa Italia dikit-dikit dan besoknya ngalor ngidul Kemendikti-Kumham-Kemlu-IIC. Saya juga cukup sering bolak balik Jakarta-Purwokerto-Jogja dalam untuk beberapa bulan. Sekalian ngepasin jadwal kondangan temen-temen jaman kuliah yang nikah. Wah kalau saya ingat masa-masa itu, ya Tuhan, itu fase yang kini terlihat mudah namun dulu terlihat sangat berat dan sangat amat melelahkan. Tapi saya terus saja berdoa, dari yang awalnya berdoa untuk diterima, lalu berdoa untuk dilancarkan segala urusan hingga berdoa agar diberikan yang terbaik. Tahu kan kenapa alasannya :)

Never stop praying! #neverstoppraying #pray #wisewords #bibleverse
Ilustrasi | www.momentsofwords.blogspot.it

Satu minggu setelah saya mendaftar ke La Sapienza, masih belum ada jawaban. Saya mulai berkecil hati kalau saya mungkin tidak masuk menjadi kandidat mereka. Tapi saya benar-benar pasrah saat itu. Karena memang nothing to lose untuk sebuah berkas pendaftaran yang baru saya kirimkan di hari terakhir dan 2 jam sebelum tutup pendaftaran waktu Italia.
Ilustrasi | Surat yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga

Dua minggu kemudian, tepatnya di Hari Pendidikan Nasional, Letter of Acceptance (LoA) dari La Sapienza saya terima. Senangnya bukan main. Waktu itu malam-malam saya lagi duduk di cafe daerah Gandaria dan iseng refresh kotak masuk. Saya masih sedikit enggak percaya kalau saya benar-benar hoki, karena yang saya tahu kapasitas untuk kelas Master Desain Produk hanya 60 kursi per angkatan. Terbatas banget kalau dibanding jurusan lain yang bisa sampai 80-100 kursi per angkatannya.

11. Kuatkan Mental
Perjuangan pelajar meraih beasiswa tentu beragam. Ada yang langsung dapat dan terlihat mulus, ada yang harus ditolak berkali-kali dan menunggu hingga tahun kedua, ada juga yang sampai ditolak keempat kali dan masih terus semangat. Jangan dikira langkah saya selamanya mulus. Percayalah kalau setiap orang pasti punya jatah gagal dan jatah keberuntungan. Dan benar saja, saya mengambil jatah keberuntungan di depan. Setelah saya dapat LoA dan beasiswa, ada banyak babak yang jauh lebih menantang ketimbang bikin motivation letter apalagi urus surat legalisir.

15 Inspirational Quotes To Get You Through The Week
Ilustrasi | www.huffingtonpost.com

Langkah-langkah yang saya tulis di atas sebenarnya langkah umum yang pasti akan ditempuh seseorang untuk melanjutkan sekolah lagi. Terlihat mudah, saya juga enggak bilang mau bilang susah. Yang susah sebenarnya menjaga agar mental kita tidak putus di tengah jalan. Ada masa di mana saya mulai terpikir untuk mengurungkan niat. Karena semakin bertambahnya usia, selain bertambah umur tapi akan semakin bertambah pula ketakutan.

Apapun itu, tidak ada hasil manis yang bisa dinikmati tanpa usaha dan kerja keras, katanya sih gitu ya hehe. Setelah fase ini, akan ada lagi fase dengan tantangan yang lebih seru di depan. Tapi bayangin aja yang enak-enak. Enggak apa-apa, toh nanti kebayar kok sama jalan-jalan di Italia dan negara-negara di Eropa yang lain. Buat teman-teman yang akan berjuang untuk melanjutkan sekolah ribuan kilometer dari Indonesia, semangat terus ya. Silahkan share tulisan ini ke teman atau saudara yang barangkali membutuhkan. Saya dengan senang hati akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan sekolah di kolom komen ini. Kalau balesnya lama ya mohon maaf ya, lagi musim ujian nih hehe. Oh ya, jangan lupa follow Instagram @ppiroma dan @ppiitalia ya untuk info lebih lanjut tentang seluk beluk sekolah di Italia.

Ciao Ragazzi! 

You Might Also Like

11 comments

  1. So inspired, tetap semangat shay. Si Kaka wajib baca nih. Belum lagi drama sebelum pergi harus kerjain project loro Jonggrang ya Shay. Anyway sukses belajarnya dan serasa holiday setiap hari disana. Miss you so much muuuah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Roro Jonggrang shayyy, ih udah pernah gue ralat prasaan haha. Ya Allahh project yg tubruk sana sini. Summer klo gue balik kerja bareng lg ya shayyy, kan udah ga musim kampanye wkwkwk

      Delete
  2. Hai Ka Listyan, saya Irine dari Surabaya. Kebetulan saya sudah mendapat LoA dari Uni Insubria, Italia dan sedang menunggu hasil dari beasiswa MAECI. Untuk berjaga2 saya jadi ingin mendaftar beasiswa yg dari perintah regional. Itu daftarnya kemana ya kak? Terimakasih dan salam kenal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Irine, maaf baru respon. Hmm kebetulan aku cuma tahu persis yg di Roma, beasiswa regional bisa dicoba masuk ke web laziodisco.it. Apply dokumen juga lewat web itu. Tapi kalo mau cari LoA di Roma masih keburu kok. Good luck yaa :))

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Halo kak salam kenal. Nama saya Istyanti.
    Singkatnya, dari SMA saya niat melanjut beasiswa fashion desaign di luar negri. Jadi apakah kakak bersedia kalau sekiranya saya bisa meminta email kakak untuk bahas universitas yang ada disekitaran Italia dan background yang masih berhubungan dengan universitas fashion desaign disitu kak??

    Maaf sebelumnya kak, kalau saya lancang meminta yang tergolong privasi tersebut.

    ReplyDelete
  5. Halo salam kenal,

    Boleh kok kalo mau tanya2, bisa DM ke instagram aku aja :)

    Have a good day!

    ReplyDelete
  6. halo kak Listy, salam kenal saya uthi. saya sangat tertarik dengan dunia fahsion design. dan sangat ingin sekolah lagi di jurusan ini. namun pendidikan saya dan pengalaman saya sebelum2 nya sangat jauh dari dunia fashion maupun design. kalau ka Listy tidak keberatan, saya sangat ingin berdiskusi dengan kak Listy.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Uthi salam kenal,

      aku juga dulu S1 ambilnya arsitektur kok. Semua orang bisa daftar kok meskipun beda jurusan atau masih minim pengalaman, di sini juga banyak yg sekolah lagi tp beda jurusan dari sekolah sebelumnya :)

      Delete
  7. Halo Mbak Putri, ngomong-ngomong apakah ini Mbak putri teman Ikhsan sma2pwt?
    perkenalkan aku Tyas istrinya Isan hehe.
    Selamat lebaran ya Mbak putri :)
    aku nyasar sampai sini karena lagi cari info nyusun portfolio buat daftar MA. Apakah dulu mbak Putri melampirkan portfolio juga waktu daftar kampusnya?
    apabila berkenan aku mau tanya-tanya mengenai portfolio lebih lanjut. Terima kasih ya, sehat terus disana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh Halo Tyas, ya ampun aku inget, dulu aku juga dateng ke nikahanmu hehe. Iya, aku dlu submit pake portfolio, cuma akku dlu apply buat jurusan arsitektur. Sok tanya2 :)

      Delete

Subscribe