Stepping Into Last Day in 2018

December 31, 2018

Tahun ini rasanya terlalu cepat untuk dilalui. Mungkin karena terlalu banyak kehebohan yang terjadi sepanjang tahun 2018. Padahal saya sudah 'lumayan' matang menyusun strategi untuk tahun 2018, tapi tetep aja drama sana sini. Setiap tahunnya saya selalu membuat resolusi. Selalu. Dari jaman akhir duduk di bangku SMA. Bukan karena apa, cuma kebetulan saya tipikal anak santai yang suka bermalas-malasan, tapi maunya banyak. Jadi kalau ada resolusi, minimal jadi tahu ke depannya mau ngapain dan arahnya ke mana.

Dulu, kalau punya resolusi, selalu punya ambisi buat ngejar. Di penghujung akhir tahun, baru sadar kalau resolusi meleset semua. Terus nyesel, karena ngerasa enggak ngelakuin apa-apa di tahun itu. Kalau sekarang, atau sekitar 2-3 tahun lalu, saya lebih selow menjalani hidup. Kalau engga kesampaian yaudah enggak apa-apa. Anggaplah belum rejeki. Kesampaian disyukuri. Mau ini itu diusahain sebisanya, habis itu ya dipasrahin. Less expected than before. Khususnya di tahun ini.

Tapi tahun ini begitu spesial buat saya. 2018 banyak sekali mengajarkan saya tentang arti hidup. Yang sebenarnya hidup itu enggak usah ribet, diterima aja, dan santai aja sis! Mungkin kita sering mendengar banyak orang bilang, 'Enggak usah terlalu berekspektasi' atau kalimat 'Rejeki enggak kemana', and believe it or not, it was happened eventho sometimes it's hard for me to understood. Ada banyak kejadian yang sebenarnya ingin saya highlights, tapi di halaman ini saya mau merangkumnya menjadi dua cerita aja.

First of all, being Volunteer Asian Games 2018. Jadi ceritanya di akhir 2017 udah ada gembar gembor volunteer Asian Games 2018 Jakarta Palembang mulai dibuka. Saat itu saya pengen banget ikutan. Itu juga gara-gara baca artikel orang yang dulu pernah jadi volunteer. Kebetulan Fikri juga ngeracunin saya buat ikutan daftar. Katanya, kapan lagi Indonesia jadi tuan rumah Asian Games. Betul juga ya, Asian Games kan event langka. Terakhir Indonesia jadi tuan rumah waktu Ir. Soekarno masih jadi Presiden. Kalau pun besok Indonesia jadi tuan rumah Asian Games, mungkin udah jamannya cucu atau cicit saya yang jadi volunteer.


ID Card kru yang sampai hari terakhir belum didaftarin ke bagian akreditasi. Cuma karena males jalan ke depan TVRI.

Akhirnya, di akhir tahun 2017 itu saya ikutan isi form volunteer untuk pre-event Asian Games. Hasilnya? Saya dipanggil untuk wawancara di bulan Februari. Sayangnya, saya saat itu lagi di luar kota. Masih belum menyerah, saya coba kontak dan kirim email HRD penyelenggara, intinya saya minta kesempatan lain untuk wawancara. Tapi nihil. Oke, saya ikhlas. Dalam hati masih menghibur diri, 'Ah ini kan cuma pre-event, jadi nanti pasti ada panggilan lagi untuk event besarnya'.

Heboh banget mau ikutan gladi bersih Opening Ceremony Asian Games 2018 

Foto bareng dulu sebelum gladi bersih Closing Ceremony Asian Games 2018

Satu bulan berselang, Fikri tanya saya sudah daftar volunteer Asian Games belum. Rupanya, dari pihak penyelenggara sempat kirim email berisi link untuk pendaftaran volunteer. Sayangnya, email itu lama mengendap di kotak spam. Saya baru buka link itu 3 hari sebelum deadline. Waktu saya coba isi form tersebut, salah satu syarat enggak bisa saya penuhi. SKCK! Ahh...seumur-umur saya belum pernah buat SKCK. Dan ribet juga buat saya kalau harus balik ke Purwokerto demi urus SKCK, karena pada saat yang bersamaan saya sedang prepare untuk tes TOEFL. Lagi-lagi saya harus legowo. Memang belum rejeki sih, begitu pikir saya.

Empat bulan kemudian, tepatnya di bulan puasa. Salah satu teman dari event organizer menawari saya,


'Put mau ikut Asian Games sama Tour d'Singkarak enggak?'


Wah, acara besar ini yang semuanya belum pernah saya liat. Waktu itu jawaban saya masih abu-abu. Karena di bulan yang sama dengan persiapan Asian Games, saya sudah ada rencana multitrip lagi sama Fikri selama 2 minggu. Belum lagi ngurusin berkas-berkas buat sekolah. Tapi, mungkin karena saya keliatan niat ikutan, nama saya pun masuk ke dalam list crew volunteer.

Ada banyak pengalaman yang bisa saya dapatkan selama jadi volunteer. Kebetulan saya dapat bagian di athlete parade. Jadi sebelum atlet masuk ke Stadion GBK, atlet-atlet ini ditempatkan di Aquatic dulu. Kerjaanya enggak ribet, santai banget malah. Sebagai floor crew di Aquatic saya bisa ketemu atlet dari berbagai negara, ketemu Atung, Kaka, dan Bhin-Bhin juga sering, bonusnya saya sering dikasih cenderamata dari atlet berbagai negara.


Bisa foto bareng maskot Asian Games aja udah seneng banget lho kita!

Yang paling berkesan ya bisa ikutan gladi kotor dan gladi bersihnya Opening-Closing Asian Games. Di saat yang lain baru bisa menyaksikan acara pembukaan secara live tanggal 18 Agustus 2018, dua hari sebelumnya saya udah bisa nonton acara pembukaan, lengkap dengan tata cahaya yang ciamik, panggung spektakuler, musisi pengisi acara, penari latar yang keren serta kembang api --dibuat sederhana, biar enggak boros-- dua kali! Begitu pula di upacara penutupan Asian Games yang sengaja mengimpor Super Junior dan IKON dari negara asalnya. Wuahh....sontak anak volunteer yang doyan K-Pop bawaanya pengen buru-buru ikutan gladi resik. Karena saya cuma ngerti Siwon, ya saya hebohnya pas liat Siwon doank hehe.

Suasana gladi kotor Closing Asian Games 2018

Sebagian kru volunteer yang bertugas di Closing Ceremony 2018

Tapi bener deh, menjadi bagian kecil dari acara Asian Games membuat saya banyak-banyak mengucap syukur. Sekalipun banyak yang dari teman-teman volunteer yang kecewa dengan sistem dan nominal yang diberikan di sana, but I realized that I was being part of that event instantly; it means my friend put my name on list directly, so I skipped over many lines. 

Cuma ngerti Siwon aja donk di Suju :(

Giliran nonton gladi bersihnya IKON

Kedengarannya sepele. Ah gitu doank. Tapi disaat volunteer lain mengorbankan waktu untuk bolak balik ke urus SKCK dan isi form registrasi, saya beruntung melewati tahapan itu. Saat saya merasa pasrah dan ikhlas untuk tidak menjadi volunteer Asian Games 2018, toh Tuhan menggantinya dengan cara yang lebih praktis dengan jalanNya. Dari peristiwa ini saya menyadari, bahwa segala kebaikan akan datang saat kita benar-benar pasrah.

Sekali-kalinya foto sendiri eh ngeblur :(
Suasana di dalem GBK saat gladi bersih Closing Ceremony, kaya piknik ya kita

Kapan lagi nonton Super Junior gratis dari jarak dekat pula

Oleh-oleh Asian Games

My second highlight is being international student
. Ini cita-cita dari dulu. Dari jaman masih pake seragam putih abu-abu. Mimpi yang hangat-hangat tai ayam. Beberapa tahun kemudian saya mulai melupakan mimpi itu, sounds impossible. Nah waktu umur sekitar 25 tahun, kepikiran lagi mau sekolah, tapi melempem lagi.  

Kalau ditanya prosesnya, tentu panjang. Lelah iya. Bukan cuma lelah urus-urus dokumennya aja, hal yang paling melelahkan saya saat itu adalah mempertahankan niat sekolah dan mental tetap terjaga. Kenapa? Karena ada banyak godaan dan fase yang membuat saya merasa down, enggak berarti dan ' 

Waktu saya masih SMA saya sempet kepikiran sekolah di Malaysia atau Singapura. Dasar anak muda, banyak maunya tapi usaha nol. Lalu setelah lulus Sarjana, Bapak menyarankan untuk langsung ambil S 2, tapi saya masih bergeming, karena dulu penginnya jadi wanita karir. Umur 25 tahun, niat mau sekolah mulai membara, targetnya Australia. Tapi atas pertimbangan orang tua, saya kembali mengurungkan niatan itu.

Hingga akhirnya di tahun 2017 saya mulai memupuk niatan untuk lanjut sekolah lagi. Karena saya sudah bersuami, orang pertama yang saya mintai ijin ya siapa lagi kalau bukan Fikri. Alhamdulillah Fikri merestui. Dulu targetnya mau sekolah di Amerika. Namanya juga mimpi, mau sekolah di mana aja bebas. Jadi dulu ada cerita sindiran sih dari dokter gigi langganan, karena saya males kontrol dan udah pindah ke Yogyakarta si dokter nyindir, 


"Kamu lama enggak kontrol, katanya kuliah di Amerika ya..."


Jleb! Nyindir banget sih dok, padahal cuma kuliah di Jogja waktu itu. Jadi kemarin waktu kepikiran untuk kuliah lagi, ya yang diinget dokter gigi saya itu.

Banyak pertimbangan yang akhirnya membuat kami membatalkan niatan untuk sekolah ke US. Saya lalu buat Plan B, C dan D. Plan B sekolah di Eropa, Plan C sekolah di Australia dan Plan D untuk New Zealand. Dulu sempat juga kepikiran mau sekolah di Italia, tapi masih belum fokus. Karena harus melupakan Plan A, saya mulai menyusun strategi untuk Plan B. Ada beberapa negara seperti Inggris dan Belanda yang masuk dalam list selain Italia. Tapi akhirnya, setelah ditimbang-timbang, khususnya karena saya suka bola, dan saya Romanisti, rasanya tidak ada kata menyesal untuk memilih negeri Pizza ini.

Vatikan, 25 Desember 2018

Persiapan mulai saya lakukan dari akhir bulan Desember 2017, saat itu targetnya untuk persiapan sekolah di Belanda. Awal tahun 2018 mulai bolak balik Jakarta-Yogyakarta-Purwokerto demi dokumen-dokumen yang menjadi syarat. Hingga pada akhirnya, saya skip untuk pendaftaran mahasiswa baru di Belanda dan memantapkan diri untuk mendaftar di Italia. Dua jam sebelum pendaftaran ditutup saya baru selesaikan urusan upload dokumentasi, voila, dua minggu setelahnya saya akhirnya mendapat Letter of Acceptance (LoA) untuk Master Product Design di Sapienza University of Rome.

Jangan dikira saya daftar langsung adem ayem dan yakin diterima ya. Selama dua minggu penantian invitation letter dari kampus saya juga mengalami masa-masa galau. Kadang suka mikir kok enggak dapet LoA ya, apa karena saya masih jauh dari standar mereka. Atau mungkin kurang kompeten. Dan lagi-lagi saya pasrah, enggak berharap apa-apa. Kalau pun belum diterima ya wajar lah, orang kirim berkasnya detik-detik terakhir. Tapi dewi fortuna masih berpihak pada saya. Di awal Mei 2018, tepatnya di Hari Pendidikan Nasional saya dapat LoA dari Profesor dari jurusan yang saya daftar. Lima bulan setelahnya, Alhamdulillah saya juga menjadi winner untuk beasiswa Laziodisu dari Provinsi Lazio --walaupun hingga detik ini beasiswanya masih belum cair juga hehe--. Dari sini saya belajar, bahwa tidak ada kata terlambat untuk memulai. Mungkin mimpi kita tidak terwujud saat ini, karena Tuhan menyiapkan mimpi yang lebih indah suatu hari nanti. Saya juga tidak pernah mengira kalau pada akhirnya bisa kuliah lagi setelah umur 29 tahun. Padahal kepengin sekolahnya sudah dari bertahun-tahun yang lalu.

Akhir pekan di Foro Romano

Masih banyak hal-hal yang banyak saya syukuri di sepanjang tahun ini. Dua cerita di atas hanya potongan kecil dari bagian kue 2018 yang saya makan. Pahit manisnya saya nikmati secara bergantian. Yang manis di sosial media biarlah terlihat manis, pahitnya tidak perlulah dibagi ke banyak orang. 

Memasuki pergantian tahun, saya --enggak kapok-- membuat resolusi lagi. Salah satu resolusi saya di 2019 nanti, saya pengin bisa lebih produktif nulis, sharing cerita dan pengalaman lewat blog ini, baik itu tentang sekolah, beasiswa maupun traveling. Saya juga ingin menjadi manusia yang pandai bersyukur sekecil apapun nikmat Tuhan. Harapannya, saya bisa menjadi manusia yang lebih baik versi saya, dan lebih mencintai diri sendiri tanpa melihat segala kekurangan sebagai alasan.

Keuntungan tinggal di Roma, banyak destinasi turis yang bisa dijelajahi


Ada yang bisa tebak saya foto di depan toko apa?

By the way, terima kasih untuk teman-teman yang sudah menyempatkan membaca blog ini, saya seneng banget lho waktu dapet banyak feedback dari teman-teman yang baca blog dari cerita traveling saya yang engga seberapa. Semoga tahun 2019 bisa lebih produktif. Happy new year Indonesia, saya siap-siap mau pergi tahun baruan dulu yaa :))


Roma, 31 Desember 2018
7 ; 21 PM







You Might Also Like

0 comments

Subscribe