Pengalaman Lintas Kamboja -- Thailand Lewat Jalur Darat. Cari Masalah, Bos?

May 18, 2018

Serunya perjalanan lintas negara via darat adalah bisa melihat realita bagaimana keadaaan daerah perbatasan di negara tersebut (border). Kalau daerah border rapi jali, modern, wangi dan memiliki tata kota yang baik, ah itu biasa. Saya dan Fikri memang sudah berniat sejak lama melakukan perjalanan --menurut kami-- anti mainstream ini. Yaitu perjalanan lintas negara dari Indonesia ke Vietnam lalu ke Kamboja lanjut mampir di Thailand sebelum balik Indonesia.

Dari Jakarta ke Ho Chi Minh City kami naik pesawat. Gampang lah. Dari Vietnam ke Kamboja via bus masih aman juga. Saat saya memasuki kantor imigrasi Kamboja dari Vietnam, kami selaku penumpang bus diwajibkan turun dan urus paspor sendiri. Di sini kita akan melakukan rekam sidik jari dan dapat arrival card untuk diisi. Penjaga disini cukup datar tampangnya, di line saya ada seorang ibu dari line seberang yang motong kompas ke line saya. Alhasil si bapak imigrasi gedor-gedor meja dan menunjuk saya untuk maju. Tapi proses imigrasi di sini cukup cepat kok. Kita enggak banyak ambil foto disini, karena bangunan kantor imigrasi cenderung kuno dan biasa. Saya cuma ke toilet setelah itu masuk bus.

Ini dia agen bus dan penampakan shuttle
Fotografi www.virakbuntham.com



Terus gimana caranya lintas perbatasan dari Kamboja ke Thailand? Hmm, ini yang menarik. Lain Vietnam, lain Kamboja, lain juga dengan Thailand. Selesai menghabiskan dua hari di Phnom Penh, kita pun melanjutkan perjalanan ke destinasi terakhir, Thailand. Waktu perjalanan dari Phnom Penh ke Bangkok ditempuh dalam waktu kurang lebih 12 jam! Jangan kaget, itu enggak terasa kok. Memilih perjalanan malam memang trik kita untuk mensiasati bujet, waktu dan tenaga. Kamu hemat 1 hari untuk bayar penginapan, dan tenaga kamu akan langsung full kalau sudah tidur cukup di malam hari.

Selain bisa online, bisa juga dibeli langsung ke agen.
Fotografi www.virakbuntham,com

Kita berangkat dari Phnom Penh pukul 22.00 dengan Bus Virakbuntham yang bisa dipesan disini. Harganya saat itu 22 USD/orang. Sleeper bus ini enggak beda jauh dari bus kelas 2 yang ada di Indonesia. Bagasi busnya aja terlihat standar, tapi waktu kita mau masukin tas, kita dibuat bengong dengan para awak bus yang sibuk keluarin dua motor dari bagasi. Luar biasa kan? Saya belum pernah liat fenomena ini di Indonesia. Jadi silahkan bayangkan sendiri! :)

Interior bus Virakbuntham. Kurang lebih begini, tapi suer bagusan di website dibanding aslinya hehe
 Fotografi www.virakbuntham.com

Kalau bus dari Vietnam-Kamboja didesain dengan seat tidur ala kursi pasien di dokter gigi, seat di Bus Virakbuntham bener-bener didesain ala queen bed. Enak sih, enak banget malah menurut saya. Saya dapat seat di bunkbed atas bersebelahan dengan Fikri, jadi rasanya kaya pindah kasur aja. Coba kalau saya pergi sendiri, bisa jadi sebelah saya entah siapa dan penumpang dari mana. Agak males ya.

Interior shuttle. Sama kok kaya aslinya
Fotografi www.virakbuntham.com

Pukul 06.00 pagi sampailah kita di Poipet, Kamboja. Ini adalah kota perbatasan dimana kamu seperti melihat daerah hasil sengketa dua negara. Semrawut, banyak homeless, dan riuh. Sebelum melakukan trip ini kami berdua banyak riset dan baca blog traveler lain, yang sedikit banyak menggambarkan bagaimana kita harus waspada di sini. Mungkin daerah ini memang aman, tapi di sini saya hampir kena scam. Dikenal sebagai kota judi dan kasino --jangan bayangin dono kasino indro di sini gaes-- Poipet berhasil mematahkan anggapan banyak orang tentang indahnya gemerlap lampu di kota judi semacam Las Vegas atau Macau. Bener-bener beda!


Gemerlap Las Vegas di malam hari | Fotografi www.wallpapers13.com


Berbekal pengalaman kondektur di bus Vietnam yang memintai paspor, pagi itu seorang pria di dalam bus berteriak "Poipet...Poipet...Paspor...Paspor". Karena baru bangun tidur --dan Fikri belum bangun-- saya langsung lihat jendela dan reflek kasih paspor ke pria tadi. Saya masih terus mencari semacam gerbang selamat datang atau selamat jalan di sini, namun nihil. Akhirnya kami turun dan jujur, kita masih sangsi apakah kita turun di border atau pasar kaget.

Image result for macau casino
Sebagai kota judi Asia, Macau enggak kalah gemerlap | Fotografi www.investors.com

Pria si pemegang paspor itu rupanya mendatangi saya dan menawarkan jasa. Oh rupanya dia calo. Jadi dia menawarkan jasa untuk urus imigrasi mulai dari keluar Kamboja sampai masuk Vietnam dengan harga 200 Bath per orang (ps. ini di Thai bisa dapet 2 kaos). Sambil otak saya kalkulasi dan konversi ke rupiah, si pria ini masih menghasut dan mengikuti kami dengan alasan urus imigrasi di sini sangat tidak beraturan, antri panjang dan makan waktu. Karena penasaran kami pun jalan ke sebuah bangunan --yang katanya imigrasi-- setelah ditunjukkan pria ini. Fiuh, lepas juga dari jeratan calo.

Pandangan pertama Poipet dari dalam bus. Welcome to the jungle!

Benar juga kata si calo, tempat yang awalnya kami kira pasar ternyata di dalamnya berkerumun orang antri cap paspor. Peringatan dilarang memotret sudah tampak di luar bangunan. Kami berdua masih kaya orang bingung. Di perbatasan ini kami enggak keluarin kamera apalagi handphone. Entahlah kami merasa kurang nyaman di sana dan sedikit waswas. Nyawa belum sepenuhnya kumpul, tapi otak kami sibuk berasumsi 'Rame banget sih ini? Yakin ini tempatnya?'. Kalau kamu pernah main ke Pasar Minggu, ya kurang lebih seperti itu, bedanya kalau bangunan --yang katanya kantor imigrasi-- ini cuma terdiri satu lantai. Kebayang kan padet dan chaosnya kaya gimana.


Seperti inilah suasana di depan kantor imigrasi Poipet.


Suka tidak suka kami masuk ke bangunan itu dan antri di line. Sialnya, line yang saya pilih masih pakai mesin rekam sidik jari jadul. Butuh 30 menit lebih untuk urus paspor di sini, kecuali kamu dapat line yang petugasnya kebagian mesin baru, paling 15 menit selesai. Cap keluar Kamboja sudah di tangan, kami pun harus mencari border selanjutnya di pintu masuk Thailand. Jalan sambil nenteng carrier dan celingukan rasanya kaya ikutan Amazing Race Asia deh hahaaa.

Nah perjalanan dari border Kamboja ke border Thailand ini rupanya membutuhkan waktu 15 menit jalan kaki. Suasananya mirip kalo kita jalan dari Pasar Palmerah ke Stasiun Palmerah. Cuma lebih ruwet ini sih. Kalau dibandingan dengan keteraturan di perbatasan Vietnam, border di Poipet lebih memprihatinkan dan ironis.
Gerbang perbatasan Kamboja dan Thailand.

Sampailah kita di border dan kantor imigrasi Thailand. Dan pengalaman singkat kami di Poipet bisa dikatakan cukup baik dan beruntung (silahkan baca Pengalaman Daniel di Poipet). Karena di Kamboja kemarin kita numpang di apartemen temannya Fikri, jadi begitu sampai Thailand kita lupa belum booking hotel. Saya sempat sih cari-cari hostel pakai wifi bus semalam, tapi ya enggak sempat pesen karena terlanjur ngantuk. Tapi minimal ada gambaran saya mau pesen dimana.


Jalan kaki menuju kantor imigrasi. Pemandangan seperti ini sangat lazim di sana.
Seperti biasa kami ambil arrival form di loket dan naik ke lantai 2 bagian foreigner. Di sana kamu bisa merasakan udara AC begitu berharga usai perjalanan di border sebelumnya. Kantor yang modern, rapi, bersih, dan dingin. Saya tidak mau membandingkan lagi dengan yang sebelumnya. Tapi saya mau cerita kejadian lucu di loket imigrasi.


Tentara Thailand di perbatasan.

Sekalipun saya dan Fikri memang tidak terpisahkan dalam perjalanan seminggu ini, tapi di loket imigrasilah kami terpisah. Saya dapat lajur kiri dengan petugas bapak-bapak yang murah senyum. Fikri masih ada di antrian saat itu. Saat cap paspor saya beres, Fikri menarik lengan jaket saya dengan tampang panik.

"Kita nginep dimana nih? Aku ditanyain," ujarnya sewot.

Waduh, kan belum dipesen. Saya pun menjawab dengan asal, "Cube Hostel, di Thong Lor."

Antara panik dan takut kalau si ibu petugas minta bukti email pemesanan, tapi sekepepetnya kita dengan situasi kejepit, muka harus selow. Saya pun samperin Fikri di loket sambil mengeja spelling hostel. Eh si Fikri malah tulis Qyube Hotel. Ibu petugas tidak tinggal diam, langsung dia tanya,

 "Where is it? Where will you stay?".

Saat itu mimik muka ibu petugas mulai mengangkat alis dan keliatan gusar. Karena saya sudah belajar agoda semalam dan cerita-cerita dengan Rama --teman Fikri yang kita tumpangi selama di Phnom Penh-- dengan pede saya asal jawab aja,

"It's located in Thonglor, Bangkok." 

Dan yes, ibu petugas langsung kasih cap di paspor Fikri. Padahal nama hotelnya juga hasil improvisasi. Tapi Fikri ngedumelnya sepanjang keluar tempat imigrasi.

Perjalanan masih belum selesai, karena kami masih belum sampai Bangkok. Kami baru sampai di pinggir Thailand, setidaknya masih 4 jam lagi sampai Bangkok. Untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya, kami bukan lagi pakai bus, melainkan shuttle/travel Virakbuntham. Tidak ada biaya tambahan karena ini masih bagian dari harga yang kita bayarkan di awal. Pukul 10 pagi shuttle kami meninggalkan Poipet, dan jam 2 siang sampai juga kita di Bangkok.

Kalau kamu berencana melakukan perjalanan serupa, apalagi kamu seorang solo traveler, sebaiknya jangan pilih bus ini. Ada banyak pilihan bus untuk menuju Kamboja, harganya variatif selisih 5-10 USD (direct bus) di atas harga bus yang kita tumpangi. Harganya relatif lebih mahal, tapi biasanya mereka menyediakan jasa urus paspor dan kalian tidak perlu meraba Poipet. Tak apalah demi sebuah kenyamanan sampai batas Kamboja dan efisiensi di perjalanan.

Tapi kalau kamu lebih haus pengalaman dan cerita seru, turun di Poipet more than you know. Kalau saya ditanya mau lewat Poipet lagi apa enggak, saya sih yes. Masih belum lengkap nih foto-foto di Poipet. Meskipun review para travel blogger mengatakan bahwa Poipet adalah kasinonya-Asia Tenggara, dan tempat ini sungguh jauhhhh sekali dari yang namanya 'hidup dengan nyaman'. Kalian bisa juga simak tulisan lain tentang border Poipet yang lain disini.

Kalau kalian gimana, penasaran pengen kesana enggak?


You Might Also Like

6 comments

  1. Menginspirasi nih.. jadi pengen jalan-jalan cari masalah ;-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. masalah ga usah dicari, ntar juga ketemu di jalan XD

      Delete
  2. berani gak yaah . . was was juga rencana nya mo ke bangkok terus poipet balik lg ke bangkok tapi dilema di perbatasan ituu

    ReplyDelete
    Replies
    1. nekat donk, seru kok, asal begitu sampe Poipet jangan keliatan kagetnya hehe. Well, ngelintasin border tuh seru banget, cobain deh ntar juga nagih :)

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Subscribe