Menyamar Jadi Warga Lokal Demi Padang Pasir di Vietnam

May 23, 2018


Ada yang bisa tebak saya lagi dimana? | Fotografi Fikri Adin


Sebagai negara yang tidak pernah masuk dalam daftar perjalanan, Vietnam sukses buat saya dan Fikri gagal move on. Bisa jadi karena kita memang tidak terlalu berekspektasi lebih terhadap negara ini. Sebelum menemukan nama Mui Ne, kami berdua hanya berniat traveling sekitar Ho Chi Minh City saja. Tidak lama setelah selesai menyusun itinerary kami pun memasukkan nama Mui Ne ke dalam daftar perjalanan.


Langit biru bersih yang didambakan di ibukota | Fotografi Fikri Adin




Yang ditunggu-tunggu di Red Sand Dunes, sunrise! | Fotografi Fikri Adin

Mui Ne terletak di Vietnam bagian tenggara. Kalo dari ibukota Ho Chi Minh City, butuh sekitar 5-6 jam perjalan via bus. Daerah ini sebenarnya daerah pesisir, tapi enggak tahu gimana ada 2 gurun pasir di sana, dan itu alasan utama kenapa kami harus menginjakkan kaki di Mui Ne. Ada 4 destinasi wisata yang bisa kita datangi, tapi kami harus mencoret 1 tempat untuk mempersingkat waktu. Berikut tempat-tempat yang kemarin kami datangi.


1. Red Sand Dunes
Red Sand Dunes terletak di 17 km timur lau dari Pantai Mui Ne. Sesuai namanya, gurun pasir ini berwarna merah kecoklatan. Di sana kamu bisa sewa papan plastik untuk sand-sleeding. Kalau enggak salah tarifnya sekitar 2 $. Kemarin kami ke sini menjelang sunrise. Jadi pemandangan cantik bangetttt. Dan kalau kamu bertahan sampai pukul 8-9 pagi jangan kaget liat langitnya yang biru bersih. Kebetulan Red Sand Dunes dekat dari penginepan kami. Sekitar 15 menit jalan kaki. Di area seberangnya juga berjejer kios makan. Kata Fikri sih kopinya enak. Namanya juga kopi Vietnam. Sekitar 1 $ harganya untuk satu gelas beras.

Seru banget kan main sand-sleeding | Fotografi Fikri Adin
 
Pemandangan dari depan kios makan. Seger kan. | Fotografi Fikri Adin

 
Kalau datang setelah sunrise masih sepi nih Red Sand Dunesnya | Fotografi Fikri Adin



2. White Sand Dunes
Berbeda dengan Red Sand Dunes yang yang ukurannya 'tidak terlalu luas', White Sand Dunes ini luas bangeeeeet. Tampilannya mirip dessert yang ada di Dubai. Kalau Red Sand Dunes cukup mudah diakses dari tengah kota Mui Ne, tapi tidak untuk White Sand Dunes yang terletak 30 km dari Mui Ne alias paling ujung. Ada dua cara menuju sana, melalui paket jeep tour (sekitar 20 $/orang) atau sewa motor. Kami memilih cara yang kedua. Tapi, di daerah perbatasan menuju White Sand Dunes polisi sering lalu lalang, kalau apes ya bisa kena tilang.


Orang lokal yang boncengin saya keliling Mui Ne :p

Saya dan Fikri bisa dibilang mujur kala itu. Berbekal sewa motor seharga100.000 VND dan helm lengkap kami berhasil melewati pos polisi yang mana pada saat itu dua orang polisi sedang menghentikan beberapa motor untuk pemeriksaan. Kalau mau aman, kita bisa kok urus SIM Internasional di Polda. Walaupun ada juga yang mengatakan SIM C Indonesia bisa dipakai di semua negara ASEAN. Tapi kalau mau nekat kaya kita bisa juga, caranya berpakaian biasa layaknya penduduk lokal. Jangan heboh-heboh outfitnya, dan sebisa mungkin hindari pakaian dengan warna menyolok.


Sunset di White Sand Dunes yang cantik sebelum malam bulan purnama tiba | Fotografi Fikri Adin











Berbekal kain Mandalay yang jadi properti foto | Fotografi Fikri Adin

Saat ke White Sand Dunes saya dan Fikri sengaja pakai baju putih, saya pakai celana pendek, dan kami semua pakai sendal jepit hostel setara swallow. Kami memutuskan berpakaian seperti itu usai jelajah di Red Sand Dunes saat duduk-duduk di kios makan tempat Fikri ngopi. Sambil bersantai kami mengamati cara berpakaian orang-orang Mui Ne. Kebanyakan dari mereka memakai outfit yang longgar, baik atasan maupun bawahan. So, no wonder kalau akhirnya Fikri berpakaian kemeja putih dan celana kain. No jeans, no shoes, no dress. 

Oya, dalam perjalanan menuju White Sand Dunes ini jangan lupa perhatikan sisi kanan ya. Kami berdua sempat mampir di tepi pantai, yang sampai sekarang kita juga enggak tahu nama pantainya apa. Seru juga buat foto-foto. Enaknya sewa motor ya seperti ini, bisa berhenti kapan pun semau kita. Tapi kami cuma berhenti sekitar 30 menit aja, karena perjalanan masih lumayan jauh dan kami harus sampai sebelum matahari terbenam.

Pantainya lumayan oke kok, bisa buat leyeh-leyeh sebentar sebelum lanjut perjalanan. Ayo siapa yang fotoin kita berdua?





Akses menuju pantai ini sangatlah mudah, karena memang letaknya ada di tepi jalan raya. | Fotografi Fikri Adin



Sunset di tepi danau White Sand Dunes | Fotografi Fikri Adin

Banyak aktivitas yang bisa dilakukan di gurun pasir putih ini. Selain foto-foto kamu bisa duduk santai di tepi danau, naik ATV yang drivernya hobi bikin jerit-jerit penumpang, hingga naik turun gurun sampai kamu merasa terjatuh dan tak bisa bangkit lagi. Sayangnya, di sini enggak banyak kios makan seperti yang bisa kamu temui di Red Sand Dunes. Kemarin kami kesini dengan tujuan mengejar sunset, dan pulangnya wah pas banget padang bulan. Fyi, meski pulang telat dan harus kembali ke penginapan, jalanan benar-benar sepi dan minim lampu. Tapi aman kok, dan cukup beruntung karena malam itu purnama.

3. Fishing Village
Letak Fishing Village sebenarnya tidak begitu jauh dari Red Sand Dunes, sekitar 10 menit jalan kaki. Sebenarnya tempat ini kalau di Indonesia mirip-mirip pasar ikan Muara Angke. Walaupun saya belum pernah ke Muara Angke, tapi kata Fikri yang bikin Fishing Village ini unik karena perahu 'mangkuk' yang dipakai para nelayan. Saya setuju itu, ditambah beberapa lapak penjual ikan yang memasang palang nama dengan bahasa mereka. Sayang banget kalau dilewatkan untuk diabadikan. Kalau mau dapat pemandangan kampung nelayan dari atas memang harus menuju kota Mui Ne dulu, arahnya mendekati agen bus FUTA.

Perahu mangkuk yang jadi daya tarik di daerah kampung nelayan. | Fotografi Fikri Adin

Foto ini diambil dari pinggir jalan raya lho!

Barisan kapal-kapal nelayan pemburu ikan yang diambil dari tepi jalan raya. | Fotografi Fikri Adin




Dua tempat yang kami lewatkan yaitu Fairy Stream. Di Mui Ne waktu kita memang sangat terbatas, sampai sana subuh, jam 10 malam sudah harus tiba di agen bus untuk perjalanan balik ke Ho Chi Minh City. Better kalau kamu mau kesini luangkan 1-2 hari. Dijamin puas eksplor. Dan buat yang berniat main ke gurun sambil kumpulin stok foto diri, hindari memakai T-shirt. Untuk cowok bisa pakai kemeja putih atau kemeja berbahan linen. Dan untuk yang cewek yang pengen difoto pakai dress, simpan dress di tas atau jok motor. Baru deh ganti di parkiran.

Ada yang berniat ke Mui Ne juga setelah baca postingan ini?




You Might Also Like

1 comments

Subscribe