Kado Ultah = OSPEK

August 17, 2010

Pagi-pagi buta,
mata belum siap untuk dibuka,
tapi saya harus tetap membuka mata saya,selengket apapun itu.

Mana yang lebih dulu?
Membuka mata atau mengumpulkan nyawa?
Bagi saya itu pekerjaan yang sama-sama penting dan menurut orang ekonomi itu adalah kebutuhan komplementer.
Saling melengkapi intinya. Tapi tidak dengan saya, saya biasa memulai kegiatan dengan membuka mata dan kemudian 'mengumpulkan nyawa' ya kurang lebih satu jam an. Makanya jangan heran kalau saya sering telat kuliah gara-gara 'ritual mengumpulkan nyawa' saya yang sering mengalami 'extended version'.

Hari ini saya memang belum puasa, tapi silir-silir saya mendengar celotehan orang-orang di rumah saat sahur. Berisik sekali. Tapi yang bisa tertangkap dalam lensa mata saya hanya ada Sinta (nama sebenarnya sekaligus adik kandung saya) dan Budhe ( nama saya sembunyikan,red ). Mereka berdua sibuk tertawa di ruang tivi,,,yang jelas-jelas saya juga ( terbiasa tidur dan ketiduran ) ada di ruang tivi. Arghhh....seharusnya kan mereka bisa lebih menghargai saya, yang notabene lebih ada terlebih dahulu sebelum mereka. Secara tubuh saya sudah tergeletak pukul 11 malam, dimana mereka berdua (lagi-lagi) masih sibuk dengan aktivitas kewanitaanya. Sejenak saya terbangun. Hanya melihat handphone dengan harapan kekasih saya masih ingat saya lalu berpura-pura mengabarkan atau sekadar mengucapkan selamat sahur. Tapi nihil. Tidak ada SMS, apalagi panggilan. Berani taruhan kalau pacar saya di ujung batas kota Jogja juga mengalami hal serupa dengan saya.

Jadi intinya saya hanya melihat jam. Menguap. Dan melanjutkan tidur. Saya harus tidur yang cukup, biar gak kesiangan, bukan untuk kuliah, bukan untuk ke kampus pagi-pagi buta dan membantu satpam kampus membubuhkan karcis parkir di setiap kendaraan yang masuk. Dan bukan pula membantu OB membuat ratusan teh untuk dinikmati para dosen. Ada satu beban mental, baik secara psikis maupun psikologis ikut mempengaruhi pola tidur saya malam itu. Bagaimana tidak? Saya harus mengantarkan adik kandung saya ehm..maksudnya Sinta OSPEK di kampus yang jauhnya minta ampun dan bagi saya itu adalah peristiwa konyol karena saya harus membelah Jogja di saat 'nyawa-nyawa' saya masih berhamburan di jalan. Sedikit ironis memang, mengingat kuliah saya tidak ada kuliah pagi ( sengaja memilih tidak mengambil kuliah pagi karena alasan yang telah saya jabarkan di atas). Tapi saya harus bangun pagi dan....whoaamm.....membelah Jogja dengan kostum training 70'an dan jaket 'anti angin' favorit saya.

Sejenak saya teringat tentang euforia saat-saat pertama masuk kuliah.Bukan OSPEK namanya, tapi INISIASI (tapi saya tahu dari awal kalau ada kamuflase atau pergeseran makna dibalik pergantian nama ini,hahaha....) Satu minggu saya pulang malam dan sesekali tidur di rumah teman, hanya untuk mengerjakan tugas di hari pertama. Membuat sekian sketsa, karikatur, dan gambar-gambar lain. Aneh. Karena dari 2 lusin anggota kelompok, bisa dibilang hanya 1/2 bahkan 1/4 orang yang masih bertahan mengerjakan tugas itu. Lalu kami ke kampus ramai-ramai dengan mengandalkan kaki andalan masing-masing. Huh, jangan harap bisa sampai kampus dengan kendaraan. Mengendus bau kampus dari radius 1 km aja uda sukur.

Tapi waktu tadi saya anter OSPEK adik saya, mereka ( para peserta OSPEK ) dengan santainya berlalu lalang di depan kampus bahkan di sepanjang jalan menuju 'kampus biru' itu. Beruntungnya mereka. Apalagi mereka yang bisa membawa kendaraan sendiri. Beda dengan adik saya yang memang harus saya boncengkan karena keterbatasan ilmu dalam mata kuliah 'mengendarai motor 4 tak'.

Wajah-wajah mereka masih segar. Mungkin sesegar itu ya wajah saya setelah lulus SMA. Apalagi wajah adik saya yang kelewat berseri-seri saat saya boncengkan. Mungkin lebih tepatnya berseri-seri punya kampus baru. ( Dasar ABG ... :p ). Di perjalanan saya (terbiasa) melemparkan 'jokes' dan membagikannya pada si Sinta itu. Maksud hati melempar, apa daya yang dilempar lebih senang menelannya bulat-bulat. Jadi tidak ada umpan balik lah kalo diistilahkan dalam badminton. Sampai di tempat tujuan, saya langung menyuruh si Sinta pake pakaian kebesaran ( karena memang kebesaran dan musti dipermak ato disekeng dikit ). Setelah itu ya saya pulang. Membelah Jogja lagi....Anehnya sebelum sampai rumah saya masih melihat anak-anak ABG itu memakai seragam OSPEK dan menunggu pergantian lampu merah ke lampu hijau. Saya jadi mikir, "Memangnya mereka gag telat ya?". Satu detik kemudian seperti ada malaikat yang menepuk pundak, "Kamu dulu juga begitu kok, Put."

Sampai rumah saya baru sadar kalau saya belum memberi ucapan selamat buat si Sinta yang hari itu juga Ulang Tahun. Padahal saya sudah berniat mo jadi orang pertama yang mengucapkan itu di hari jadinya. Apa daya saya keburu tulis blog ini dan menceritakan apa yang baru saja saya alami.

Happy Buzz-Day my sister,
dan jadilah anak yang budiman...

You Might Also Like

0 comments

Subscribe